Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 Juli 2019•Update: 26 Juli 2019
SM Najmus Sakib
DHAKA, Bangladesh
Menteri Luar Negeri Bangladesh mengatakan kebuntuan dalam memulangkan Muslim Rohingya ke tanah air mereka di Myanmar mungkin akan berakhir pada September.
AK Abdul Momen mengumumkan jadwal kamungkinan repatriasi Rohingya di Dhaka, Rabu.
"Saya mengharapkan repatriasi dapat dimulai dari September ini. Setelah kunjungan Perdana Menteri Sheikh Hasina ke China, segalanya bergerak lebih cepat," ujar dia, seperti dikutip harian lokal The Financial Express.
Momen, yang baru-baru ini mengakhiri kunjungannya ke Sekjen PBB dan anggota parlemen AS, menegaskan bahwa Myanmar tidak mengharapkan kritik global atas masalah ini selama Sidang Umum PBB yang akan diadakan pada September.
"Saya punya firasat tentang hal itu. Kami mendapat umpan balik positif dari semua negara sahabat yang terlibat dalam proses ini," tambah dia.
Sang menteri mendesak masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya di negara bagian Rakhine, Myanmar, agar repatriasi dapat dilakukan dengan cara yang aman dan kondusif.
Sementara itu, Nay San Lwin, koordinator kampanye untuk kelompok HAM Koalisi Pembebasan Rohingya, menyatakan keprihatinannya terhadap perkembangan tersebut.
"Dunia dan Bangladesh harus memastikan bahwa siklus kekerasan terhadap Rohingya tidak terulang lagi. Rohingya dapat hidup kembali di tanah air mereka sebagai manusia," kata Lwin kepada Anadolu Agency.
Dia menggarisbawahi bahwa genosida kelompok Muslim harus berakhir sebelum pemulangan dimulai.
Lwin menambahkan bahwa lebih dari satu juta korban genosida Myanmar yang mengungsi di Bangladesh akan kembali ke tanah air mereka jika perlindungan, kewarganegaraan penuh, hak untuk kembali ke desa asal mereka, hak untuk mata pencaharian, akses ke pendidikan dan perawatan kesehatan dijamin.
"Genosida belum berakhir. Ini masih berlangsung. Sampai sekarang tidak ada jaminan untuk apa pun," pungkas dia.
- Kelompok yang teraniaya
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.