Muhammad Abdullah Azzam
18 Juni 2020•Update: 18 Juni 2020
BERLIN
Seorang ibu Turki pada Rabu melanjutkan aksi protes di depan kantor Kanselir Angela Merkel di Berlin guna memohon bantuan untuk menyelamatkan putrinya dari kelompok teroris PKK.
Maide T. - warga imigran Turki di Jerman – mengatakan bahwa putrinya Nilufer direkrut secara paksa oleh kelompok teroris itu di Jerman, dalam aksinya dia membentangkan spanduk yang meminta agar putrinya diselamatkan.
Protes dilakukan oleh Maide selama pertemuan Kabinet yang dipimpin oleh Merkel.
Selama protes pada Mei, Maide mengatakan kepada wartawan bahwa dia telah melakukan demonstrasi selama berbulan-bulan - saat ini lebih dari tiga bulan - tetapi sejauh ini otoritas Jerman belum menghubunginya.
Pada Rabu dia mengatakan bahwa dari waktu ke waktu semakin banyak orang mulai berpartisipasi denganya untuk melakukan protes, yang membuatnya senang, tetapi pandemi Covid-19 membuat angka partisipan di lapangan lebih rendah daripada yang seharusnya.
Dia mengatakan bahwa terlepas dari klaim kelompok teroris itu, PKK tidak mewakili Kurdi, tetapi pada kenyataannya menyebabkan kematian banyak orang-orang dari etnis tersebut, termasuk orang muda.
"Berapa banyak orang yang mati sampai sekarang?" dia bertanya, "Jika PKK mewakili Kurdi, itu tidak akan menyebabkan kematian bagi para pemuda."
Maide T. juga mengatakan dia bersyukur atas pesan dukungan dari sekelompok ibu di Diyarbakir, tenggara Turki, yang juga menuntut pengembalian anak-anak mereka dari kelompok teror.
Sejak September tahun lalu, banyak keluarga Kurdi yang menggelar aksi protes di luar kantor HDP cabang Diyarbakir, sebuah partai yang dituduh oleh Turki memiliki hubungan dengan teroris PKK.
Nilufer T. hilang sejak 12 November lalu, setelah dia mengatakan akan pergi ke sekolah.
Selain di depan kantor Merkel, Maide telah berdemonstrasi di depan Gerbang Brandenburg, parlemen, dan kantor sebuah kelompok yang dituduh memiliki hubungan dengan PKK.
Dalam terornya melawan Turki selama lebih dari 30 tahun, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teror oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian 40.000 orang, termasuk perempuan, anak-anak, dan bayi.
Meskipun PKK secara resmi dilarang, Turki telah mengeluh bahwa pemerintah Jerman membiarkan kelompok teroris dan afiliasinya merekrut dan menyebarkan propaganda tanpa hambatan.