Muhammad Abdullah Azzam
20 November 2019•Update: 21 November 2019
Esref Musa, Burak Karacaoglu
IDLIB, Suriah
Perang saudara yang sedang berlangsung di Suriah menyebabkan minimnya kesempatan pendidikan dan masalah keuangan sehingga memaksa anak-anak Suriah untuk bekerja pada usia dini demi berkontribusi pada ekonomi keluarga mereka.
Ratusan ribu keluarga terpaksa bermigrasi karena pemboman besar-besaran di wilayah kampung halaman mereka oleh rezim Bashar al-Assad, yang didukung oleh Iran dan Rusia.
Kematian anggota keluarga akibat serangan-serangan, yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah mereka, memaksa anak-anak Suriah untuk putus sekolah dan bekerja di lingkungan yang tidak sehat.
Anak-anak Suriah berusaha menafkahi keluarga mereka dengan bekerja di tempat pembuangan sampah di desa Sinjar, Idlib, yang direbut oleh pasukan rezim Assad dengan dukungan udara Rusia.
Muhammed Asmar, yang seharusnya duduk di kelas 6 SD, mengatakan bahwa dirinya meninggalkan sekolah untuk membantu keluarganya dan dia telah bekerja di tempat pembuangan sampah selama 2,5 tahun.
"Saya sama sekali tidak menyukai pekerjaan ini. Saya ingin belajar. Ada sekolah hingga kelas 4 di wilayah kami. Sekolah lain jauh dari tempat kami tinggal, tidak ada kendaraan untuk mencapai ke sana," ungkap Asmar.
Asmar mengumpulkan tas nilon, plastik, potongan tembaga dan aluminium dari tempat sampah, menghasilkan 700-1000 pound Suriah (USD1,6 - USD2,3) perhari.
Suriah dilanda perang saudara yang ganas sejak awal 2011, ketika rezim Assad menindak protes pro-demokrasi.
Meski Idlib telah menjadi zona de-eskalasi yang diatur dalam kesepakatan antara Turki dan Rusia pada akhir 2018.
Namun sejak itu lebih dari 1.300 warga sipil tewas akibat serangan oleh rezim dan pasukan Rusia di zona tersebut.