Maria Elisa Hospita
03 April 2018•Update: 03 April 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) akan mempertimbangkan untuk mengekstradisi pemimpin Organisasi Teroris Fetullah (FETO) Fetullah Gullen ke Turki terkait dengan pembunuhan Duta Besar Rusia di Ankara dua tahun silam, begitu Turki mengajukan sejumlah dokumen yang diperlukan.
"Kami akan meninjau semua materi yang mungkin diberikan pemerintah Turki dalam hal ini dan kami akan mengeluarkan keputusan sesuai dengan fakta dan undang-undang AS yang relevan," kata juru bicara Departemen Kehakiman Nicole Navas Oxman kepada kantor berita Rusia, Tass.
Andrei Karlov dibunuh pada 19 Desember 2016 oleh Mevlut Mert Altintas, seorang perwira polisi yang diketahui terafiliasi dengan FETO, kelompok teror yang juga mendalangi percobaan kudeta 15 Juli 2016.
Karlov sedang menyampaikan pidato di Contemporary Arts Gallery, di Cankaya, pusat Ankara, ketika sang pelaku melepaskan tembakan ke arah diplomat tersebut.
Dia segera dilarikan ke rumah sakit, namun dinyatakan meninggal dunia tak lama kemudian. Sementara itu, Altintas tewas dalam baku tembak di galeri dengan polisi.
Menurut Kejaksaan Turki, Altintas mengenal Gulen. Lima orang, termasuk tiga polisi, ditangkap dalam penyelidikan pembunuhan Karlov.
FETO dan pemimpinnya yang menetap di AS, Fetullah Gulen, merancang percobaan kudeta 15 Juli 2016 di Turki yang menewaskan 250 orang dan melukai hampir 2.200 orang.
Ankara juga menuding FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan pemerintah melalui infiltrasi institusi-institusi Turki, khususnya militer, kepolisian, dan pengadilan.