Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 April 2020•Update: 04 April 2020
Tuba Sahin
ANKARA
Bank Dunia pada Kamis menyetujui serangkaian operasi bantuan darurat pertama untuk negara-negara berkembang di tengah pandemi virus korona (Covid-19).
"Kelompok proyek pertama, senilai USD1,9 miliar, akan membantu 25 negara," kata Bank Dunia dalam sebuah pernyataan.
Lebih dari setengah pembiayaan darurat dialokasikan ke India dengan USD1 juta untuk mendukung penyaringan yang lebih baik, pelacakan kontak dan diagnosis laboratorium, pengadaan peralatan pelindung pribadi serta mendirikan ruang isolasi baru.
Pemberi pinjaman institusional siap untuk mengerahkan hingga USD160 miliar selama 15 bulan ke depan untuk mendukung langkah-langkah penanggulangan Covid-19, yang akan membantu negara menanggapi konsekuensi kesehatan langsung dari pandemi dan meningkatkan pemulihan ekonomi.
Program ekonomi bertujuan untuk mempersingkat waktu pemulihan, menciptakan kondisi untuk pertumbuhan, mendukung usaha kecil dan menengah serta membantu melindungi kaum miskin dan rentan.
Presiden Bank Dunia David Malpass menekankan bahwa negara-negara termiskin dan paling rentan kemungkinan akan paling terpukul, sehingga bank berfokus pada solusi tingkat negara dan regional untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung.
“Kelompok Bank Dunia mengambil tindakan luas dan cepat untuk mengurangi penyebaran Covid-19 dan kami sudah memiliki operasi respons kesehatan yang bergerak maju di lebih dari 65 negara,” kata Malpass.
Axel van Trotsenburg, direktur operasi bank, mengatakan paket itu akan menyelamatkan nyawa dan membantu mendeteksi, mencegah dan merespons virus.
"Operasi negara kami akan dikoordinasikan di tingkat global untuk memastikan praktik terbaik segera dibagikan, termasuk pendekatan untuk memperkuat sistem kesehatan nasional dan mempersiapkan potensi gelombang lanjutan dari virus yang merusak ini," ujar Trotsenburg.
Sejak pertama kali muncul di Wuhan, China, pada Desember lalu, virus korona telah menyebar ke setidaknya 181 negara dan wilayah.
Menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University Amerika Serikat, lebih dari 1.016.500 kasus telah dilaporkan di seluruh dunia sejak Desember lalu, dengan angka kematian lebih dari 53.100 dan lebih dari 211.800 dinyatakan sembuh.