Diyar Guldogan
15 November 2022•Update: 30 November 2022
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa mendesak Uni Eropa (UE) untuk memainkan perannya dalam memperpanjang kesepakatan biji-bijian via Laut Hitam, yang akan berakhir dalam hitungan hari.
Erdogan menyampaikan hal itu pada pertemuan tertutup dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela-sela KTT G-20 Indonesia di Bali, mereka juga membahas hubungan bilateral dan perkembangan regional lainnya.
Erdogan mengatakan bahwa koridor biji-bijian mulai berfungsi lagi pada awal November setelah upaya intensif dari Turki, membantu meyakinkan Rusia untuk berpartisipasi kembali dalam kesepakatan tersebut setelah menyatakan keluar pada 29 Oktober, kata Direktorat Komunikasi Turki.
Pada Juli ini, Turki, PBB, Rusia, dan Ukraina menandatangani kesepakatan di Istanbul untuk melanjutkan ekspor biji-bijian dari tiga pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, yang terhenti setelah Rusia melancarkan perang terhadap tetangganya, Ukraina pada Februari.
Para pihak saat ini sedang menegosiasikan kemungkinan perpanjangan dan perluasan di luar batas waktu yang direncanakan pada Sabtu, 19 November.
Erdogan mengatakan Ankara bertekad untuk membantu agar biji-bijian dan pupuk Rusia diangkut ke negara-negara kurang berkembang.
Presiden Turki juga mengatakan kepada Macron bahwa Yunani harus didorong untuk melakukan dialog yang jujur, tulus, dan bermakna dengan Turki.
Mengembangkan kerja sama antara Ankara dan Paris di sektor pertahanan dan energi serta perdagangan adalah kepentingan bersama kedua negara, kata Erdogan.
Macron, pada bagiannya, menyampaikan belasungkawa kepada Erdogan atas serangan teroris mematikan pada hari Minggu di Istanbul.
Sedikitnya enam orang tewas dan 81 lainnya luka-luka dalam serangan bom, yang dikonfirmasi oleh pemerintah Turki dilakukan oleh kelompok teroris YPG/PKK.
Macron mengatakan di Twitter bahwa perang di Ukraina meningkatkan risiko kelaparan global.
"Turki dan Prancis akan terus bekerja untuk memastikan ekspor terus berlanjut tanpa hambatan," tambah Macron.