Barry Ellsworth
21 Mei 2021•Update: 23 Mei 2021
Barry Ellsworth
TRENTON
Pengadilan Kanada pada Kamis memutuskan bahwa Iran menembak jatuh pesawat Ukraine International Airlines penerbangan 752 dengan sengaja, menewaskan semua 176 penumpang dan awaknya.
Hakim Edward Belobaba dari Pengadilan Tinggi Ontario juga menyebut kasus tersebut sebagai aksi terorisme.
"Saya menemukan bahwa serangan rudal ke penerbangan 752 disengaja dan secara langsung menyebabkan kematian semua penumpang," tulis hakim dalam keputusannya.
Garda Revolusi Iran menembak jatuh pesawat Boeing 737 itu pada 8 Januari 2020, tindakan yang menurut pemerintah Iran dilakukan karena kelalaian.
Iran mengatakan pesawat itu disalahartikan sebagai rudal musuh. Namun hakim membantah pernyataan itu karena "tidak ada konflik bersenjata di wilayah tersebut" pada saat itu.
Gugatan tersebut diajukan oleh empat keluarga korban.
Dari 176 penumpang di pesawat itu, sebanyak 55 warga negara Kanada dan 30 penduduk tetap Kanada.
Belobaba memutuskan bahwa para keluarga korban dari Kanada berhasil merunut insiden itu dan membuktikannya sebagai tindakan yang disengaja.
Hakim juga setuju dengan pengacara keluarga, Mark Arnold, bahwa cara terbaik untuk mendapatkan kompensasi dari insiden tersebut adalah dengan menuntut pemerintah Iran yang "melakukan aksi teroris".
Gugatan tersebut menyeret sejumlah terdakwa, termasuk Iran, Garda Revolusi Iran, Angkatan Bersenjata Iran, dan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Pemerintah Iran menerima pemberitahuan tentang gugatan tersebut musim gugur lalu tetapi tidak membela diri.
Pengadilan akan memutuskan kompensasi yang sesuai di kemudian hari, tetapi pekan lalu, Menteri Luar Negeri Marc Garneau mengatakan bahwa Kanada akan segera mulai merundingkan kompensasi untuk keluarga dari pemerintah Iran.
September lalu, pemerintah Kanada menyita dan menjual puluhan juta properti pemerintah Iran di Kanada.
Global News melaporkan bahwa dokumen pengadilan September lalu mengungkapkan bahwa properti itu diperkirakan bernilai [CAN] $ 28 juta dan uang itu dibagikan kepada keluarga, termasuk para korban Hamas dan Hizbullah, kelompok teroris yang dibiayai, dipersenjatai, dan dilatih oleh Iran.
Garneau juga kembali mendesak Iran untuk "bertanggung jawab penuh" dalam mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi selama insiden itu.