Maria Elisa Hospita
13 September 2018•Update: 13 September 2018
Ibrahim Saleh
BAGHDAD
Sedikitnya 60.000 orang menderita keracunan karena pencemaran air di selatan provinsi Basra, Irak.
“Dampak pencemaran air terus meningkat di Basra, di mana kami telah mendokumentasikan 60.000 kasus keracunan [karena minum air yang tercemar],” ungkap Mahdi al-Tamimi, kepala kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Irak (IHCHR) di Basra, Rabu.
"Ini adalah bencana lingkungan serius yang mempengaruhi kehidupan seluruh penduduk Basra," tambah dia.
Bulan lalu, Kementerian Sumber Daya Air Irak melaporkan bahwa kandungan garam terlarut telah mencapai 7.500 tds (total padatan terlarut) di perairan Shatt al-Arab, yang merupakan sumber utama air minum Basra.
Badan Kesehatan Dunia telah menetapkan 1.200 tds sebagai batas maksimum air yang aman untuk diminum.
Pada Agustus, Perdana Menteri Haider al-Abadi menginstruksikan pemerintah Basra untuk memperbaiki instalasi desalinasi air yang rusak dan jaringan air yang lapuk.
Dia juga meminta kementerian pertahanan dan transportasi Irak mengalokasikan kendaraan untuk membantu penyaluran air minum ke warga.
Sejak 9 Juli, provinsi-provinsi selatan dan tengah Irak - khususnya Basra - telah diguncang gelombang protes yang menyebar sampai ke ibu kota.
Demonstran menuntut peningkatan utilitas publik - termasuk air dan listrik - kesempatan kerja, dan memprotes praktik korupsi pemerintah.