Hayati Nupus
13 September 2018•Update: 14 September 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Sebanyak 1.700 pakar dan praktisi dunia Islam akan hadir dalam Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2018 pada 17-20 September 2018 di Palu, Sulawesi Tengah.
Di antaranya Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dan Pakar Studi Islam Dominik Müller dari Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman. Ribuan pakar tersebut akan berupaya memecahkan persoalan keislaman terkini.
Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Arskal Salim mengatakan saat ini dunia masih mengalami kesulitan memahami Islam, terutama karena adanya kontradiksi antara ajaran Islam dengan perilaku sebagian penganutnya.
“Kampanye ISIS [Daesh] yang terus menerus melawan kemanusiaan telah membuat citra Islam merosot di mata dunia,” ujar Arskal pada Kamis, seperti dalam keterangan pers.
Arskal mencontohkan aksi kelompok ekstremisme Daesh di Irak dan Suriah yang terus menebarkan ancaman serta teror ke seluruh dunia.
Aksi itu, ujar Arskal, membuat orang-orang barat mencitrakan Islam sebagai agama teror dan kekerasan.
Padahal negara-negara berpenduduk muslim di Asia Tenggara, ujar Arskal, juga memiliki perbedaan besar seperti di Timur Tengah, namun memiliki banyak kisah sukses moderasi Islam di tengah tekanan ekstremisme.
Negara-negara Islam di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, banyak melahirkan pemikiran baru soal budaya, sosial, ekonomi, arsitektur dan pola hubungan mayoritas-minoritas.
“Kita sangat kaya akan khazanah keislaman yang belum tergali dengan sempurna,” kata dia.
Selain itu, ujar Arskal, Asia Tenggara merupakan kantung penduduk muslim dunia, dengan jumlah 1,6 miliar jiwa atau 25 persen.
Dengan keberhasilan dan jumlah penganut yang banyak itu, menurut Arskal, Asia Tenggara dapat menjadi salah satu representasi dunia Islam.