Rhany Chairunissa Rufinaldo
31 Desember 2018•Update: 02 Januari 2019
Godfrey Olukya
ARU, Kongo
Sekitar 46 juta orang memberikan suaranya pada Minggu dalam pemilihan presiden dan parlemen Republik Demokratik Kongo yang telah lama tertunda.
"Terlepas dari daerah-daerah yang pemilihannya tertunda karena wabah Ebola, pemungutan suara di semua bagian negara lain tetap berlangsung," kata Longwa dalam sebuah pernyataan.
Dia menambahkan bahwa banyak orang datang ke TPS dan sejauh ini pelaksanaannya berjalan normal.
Di beberapa daerah, pemungutan suara tertunda selama berjam-jam karena kurangnya mesin pemilihan elektronik atau hilangnya daftar pemilih.
"Di beberapa desa, materi pemungutan suara tiba terlambat karena jalan yang buruk," ujar Longwa.
Dia mengatakan Presiden Joseph Kabila dan istrinya telah memilih di tempat pemungutan suara di Kinshasa.
"Ini adalah hal yang bagus, dia telah menunjukkan kepada semua warga cara memenuhi tugas kewarganegaraan mereka."
Polisi dan pasukan militer dikerahkan di seluruh negeri untuk menjaga keamanan di semua tempat pemungutan suara.
Polisi memperingatkan mereka siapa pun yang mencoba mengganggu pemilu akan ditendak tegas.
Di Aru, bagian timur negara itu, seorang pemilih bernama Amon Kibenge mengatakan dia memberikan suara karena pemilihan tersebut bertujuan untuk membentuk masa depan negaranya.
''Saya berjalan sejauh 10 mil ke pusat pemungutan suara sehingga saya bisa memberikan suara dalam pemilihan penting ini, yang sangat berarti sejauh menyangkut masa depan negara kita,'' katanya.
Masa jabatan Kabila seharusnya berakhir dua tahun lalu, tetapi dia menolak untuk mengadakan pemilihan umum dengan alasan bahwa sebagian besar warga belum terdaftar.
Pemungutan suara diikuti oleh Felix Tshisekedi, Martin Fayulul dan Emmanuel Ramazani Shadary sebagai calon presiden.