Rhany Chairunissa Rufinaldo
13 Desember 2018•Update: 13 Desember 2018
Safiye Karabacak
KUWAIT
Menlu Kuwait Sheikh Sabah al-Khalid al-Hamad al-Sabah pada Rabu mengatakan negaranya siap menjadi tuan rumah upacara penandatanganan kesepakatan untuk mengakhiri perang di Yaman jika pihak-pihak yang terlibat mencapai konsensus.
Al-Sabah membuat pernyataan itu saat konferensi pers bersama dengan rekan sejawatnya dari Austria, Karin Kneissl.
"Kami siap untuk berdiri di samping saudara-saudara kami di Yaman ketika mereka siap untuk mengakhiri perang, mencapai perdamaian dan menandatangani perjanjian yang kami harap bisa dilakukan di Kuwait," katanya.
"Kami tidak percaya jika ada alternatif lain selain solusi politik untuk mengakhiri krisis Yaman," tambahnya, menekankan bahwa Kuwait pernah menjadi tuan rumah perundingan soal Yaman dua tahun lalu.
Kneissl mengatakan dialog adalah satu-satunya pilihan untuk menyelesaikan perang Yaman.
Pembicaraan damai Yaman yang ditengahi PBB dimulai pada 6 Desember di ibu kota Swedia, Stockholm.
Dalam negosiasi yang dipimpin oleh Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths, pemerintah Yaman dan pemberontak Houthi membahas isu-isu yang disengketakan, termasuk pembebasan tahanan, pertempuran atas Hudaydah, Bank Sentral Yaman, blokade Taiz, bantuan kemanusiaan dan bandara Sana'a.
- Upaya perdamaian sebelumnya
Pembicaraan antara pihak-pihak yang berseteru di Yaman di Swiss pada 2015 dan di Kuwait pada 2016 berakhir dengan kegagalan.
Perundingan damai yang ditengahi PBB yang dijadwalkan akan diadakan pada 6 September di Jenewa juga gagal karena Houthis tidak mau berpartisipasi.
Yaman didera kekerasan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara, termasuk ibu kota, Sanaa.
Konflik meningkat pada 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan kampanye udara besar-besaran di Yaman untuk menggulingkan kekuasaan Houthi.
Kekerasan telah menghancurkan infrastruktur Yaman, termasuk sistem kesehatan dan sanitasi, mendorong PBB untuk menggambarkan situasi tersebut sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern.
*Ali Murat Alhas berkontribusi pada berita ini dari Ankara