Maria Elisa Hospita
04 September 2018•Update: 04 September 2018
Ali Mohamed
ERBIL, Irak
Selama sidang parlemen pertama pada Senin, parlemen Irak yang baru-baru ini terpilih gagal untuk memilih ketua parlemen karena sengketa yang sedang berlangsung di mana koalisi mewajibkan blok terbesar di majelis.
Menurut konstitusi Irak, mayoritas blok di parlemen akan memiliki hak untuk menyusun pemerintah yang baru.
Dalam sidang yang dihadiri oleh 297 dari 329 anggota parlemen itu, perselisihan sengit terjadi antara Al-Bina dan koalisi Reformasi dan Konstruksi, yang keduanya mengklaim telah mencapai blok mayoritas.
Mohamed Ali Zeini - anggota parlemen tertua saat ini - yang bertugas sebagai ketua sementara, menunda sidang hingga Selasa.
Di antara para kandidat ketua, seorang politikus Sunni terkemuka, Osama al-Nujaifi, adalah yang paling diunggulkan.
Berdasarkan hasil pemilihan parlemen 12 Mei di Irak, Koalisi Sairoon Muqtada al-Sadr memenangkan 54 kursi, diikuti oleh koalisi pimpinan Hashd al-Shaabi (47 kursi) dan Blok Kemenangan pimpinan Perdana Menteri Haider al-Abadi (42 kursi).
Dalam kurun waktu 30 hari dari sidang parlemen pertama, majelis akan memilih presiden negara berikutnya.
Presiden kemudian akan menyusun pemerintahan yang harus dirujuk kembali ke parlemen untuk disetujui.