Maria Elisa Hospita
06 Desember 2017•Update: 07 Desember 2017
NAIROBI, Kenya
Lebih dari 4.000 delegasi dari seluruh dunia berkumpul di Nairobi, Kenya, pada Senin, untuk menghadiri konferensi Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa ketiga (UNEA-3), yang bertujuan untuk mengatasi isu-isu kritis yang berkaitan dengan lingkungan.
Delegasi ini, termasuk menteri dan kepala negara, mendiskusikan sejumlah isu, seperti polusi air dan udara, yang menelan jutaan korban tiap tahunnya. Mereka juga akan mendiskusikan kepemimpinan dalam bidang lingkungan, pendanaan, dan kebijakan baru.
"Kami punya tujuan bersama yaitu mengurangi polusi secara besar-besaran, mematahkan paradigma, dan bekerja dalam kerangka paradigma yang baru sesuai dengan agenda 2030, untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat dan planet kita," kata Presiden UNEA-3 Edgar Gutierrez, yang juga menjabat sebagai menteri lingkungan dan energi Kosta Rika, saat pembukaan konferensi.
"Kami perlu membangun kerja sama yang lebih kuat dengan masyarakat, juga mendengarkan langsung pengalaman mereka. Apa yang kita bicarakan di sini akan mengubah kehidupan dan melestarikan planet kita," tambah dia.
Menurut PBB, kerusakan lingkungan telah mengakibatkan satu dari empat kematian di seluruh dunia, atau sebanyak 12,6 juta dalam satu tahun, dan juga hancurnya ekosistem.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin, PBB mengatakan bahwa puluhan resolusi tersedia di atas meja majelis, termasuk pendekatan baru untuk mengatasi polusi udara, yang menjadi satu-satunya perusak lingkungan terbesar, yang telah mengakibatkan 6,5 juta orang tewas setiap tahunnya.
PBB juga mengatakan bahwa kualitas udara di lebih dari 80 persen kota tidak memenuhi standar kesehatan PBB.
"Dengan melihat catatan buruk mengenai bagaimana kita meracuni diri kita sendiri maupun planet, keputusan berani dari Majelis Lingkungan PBB sangat diperlukan untuk memerangi polusi, perubahan iklim, dan ancaman lingkungan lainnya," tegas Erik Solheim, direktur eksekutif Program Lingkungan PBB di Nairobi.