Maria Elisa Hospita
09 Februari 2018•Update: 09 Februari 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Kongres Amerika Serikat (AS) sekali lagi gagal menjalankan kewajiban dasarnya, hingga memicu penutupan pemerintahan (shutdown) untuk kedua kalinya selama pemerintahan Presiden Donald Trump.
Shutdown terjadi setelah seorang senator dari Partai Republik menghalangi upaya pengambilan suara bulat.
Hingga Kamis tengah malam, anggota parlemen berkutat untuk menetapkan anggaran, namun Senator Rand Paul melakukan filibuster dengan terus-menerus menyatakan keberatan atas usulan kenaikan anggaran.
"Sebuah negara tidak bisa selamanya menghabiskan uang seperti ini. Apa yang Anda saksikan adalah sebuah kecerobohan yang seolah-olah diwujudkan melalui persetujuan dua pihak (bipartisan)," tandas Paul.
Rancangan anggaran tersebut diperkirakan akan meningkatkan belanja pertahanan sebesar USD165 miliar dan belanja domestik sebesar USD131 miliar selama dua tahun ke depan, serta menangguhkan batas utang selama satu tahun. Selain itu, anggaran juga akan menambah dana bantuan bencana hingga sekitar USD90 miliar.
Akibat filibuster Paul, anggota parlemen akan kembali menggelar pemungutan suara baru pada Jumat dini hari.
Senat dijadwalkan akan menggelar pemungutan suara sekitar pukul 1 pagi waktu setempat (0600 GMT), dengan hasil suara tersebut akan diteruskan ke Dewan Perwakilan Rakyat AS.
Jika diloloskan DPR, rencana anggaran tersebut akan diserahkan ke meja Presiden Donald Trump untuk ditandatangani. Paling cepat, rencana anggaran akan ditandatangani pada Jumat pagi, yang artinya shutdown tidak akan berlangsung terlalu lama.
Ini merupakan shutdown kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari sebulan, setelah Demokrat menggelincirkan rancangan anggaran sebelumnya karena kurangnya perlindungan bagi imigran yang dibawa ke AS secara ilegal sebagai anak-anak.
Kelompok imigran, atau yang dikenal sebagai "Pemimpi", menjadi fokus utama Demokrat setelah Trump mengakhiri program DACA tahun lalu.