Chandni
09 Februari 2018•Update: 10 Februari 2018
Ahmed al-Masri dan Gulsen Topcu
DOHA, Qatar
PBB berterima kasih kepada Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) atas sumbangan mereka untuk Jalur Gaza pada Kamis.
Sebelumnya pada Selasa PBB memperingatkan sedang terjadi krisis energi yang buruk di kawasan Palestina yang diblokade itu.
"Bahan bakar darurat untuk fasilitas-fasilitas penting di Gaza akan habis dalam waktu sepuluh hari," kata Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melalui sebuah pernyataan.
PBB mengatakan sumbangan USD9 juta dari Qatar dan USD 2 juta dari UEA akan menyediakan layanan medis dan air minum untuk warga Gaza yang membutuhkan.
Melalui sebuah pernyataan, Mohammed Al-Emadi, kepala komite rekonstruksi Gaza dari Qatar mengatakan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani memberikan perintah untuk menyerahkan dana bantuan sebesar USD9 juta.
Dalam beberapa tahun terakhir, Qatar melakukan sejumlah proyek rekonstruksi di Gaza, termasuk membangun jalanan dan rumah sakit.
Secara terpisah, UEA juga mengatakan akan memberikan USD2 juta kepada OCH untuk memasok bahan bakar bagi Gaza.
Lembaga PBB itu mengatakan membutuhkan dana USD6,5 juta untuk menyediakan 7,7 juta liter bahan bakar darurat untuk tahun 2018 di Gaza.
"Itu adalah jumlah minimal yang dibutuhkan bila ingin menghindari pemogokan layanan," kata mereka.
Jalur Gaza yang diblokade Israel memiliki sekitar dua juta penduduk. Mereka mengalami kesulitan listrik sejak 2006.
Krisis itu mengakibatkan sejumlah rumah sakit dan pusat medis terpaksa tutup dalam beberapa hari ini.
OCHA mengestimasi dibutuhkan 1,4 juta liter bahan bakar per bulan untuk sejumlah fasilitas penting di Gaza.
Meskipun wilayah tersebut membutuhkan sekitar 600 megawatt listrik, saat ini hanya menerima 120 megawatt dari Israel dan 32 megawatt lainnya dari Mesir.
Pembangkit listrik yang berfungsi di Gaza, sementara itu, hanya mampu menghasilkan 60 megawatt listrik, menurut Otoritas Energi Palestina.