Maria Elisa Hospita
25 Oktober 2018•Update: 25 Oktober 2018
Hassan Isilow
JOHANNESBURG
Afrika Selatan mengumumkan bahwa prediksi pertumbuhan ekonomi 2018 negaranya telah dipangkas sebagian, dari 1,5 persen menjadi 0,7 persen.
"Pertumbuhan diperkirakan akan pulih secara bertahap menjadi lebih dari 2 persen pada 2021 seiring kembalinya tingkat kepercayaan dan investasi," papar Menteri Keuangan Tito Mboweni dalam pernyataan Kebijakan Anggaran Jangka Menengahnya.
Departemen Keuangan Afrika Selatan telah memproyeksikan pertumbuhan sebesar 1,5 persen pada 2018 dan 2,1 persen pada 2020.
Prospek ekonomi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya karena rendahnya produksi di bidang pertanian dan pertambangan, dan tidak ada investasi baru selama kuartal pertama.
Mboweni menegaskan pemerintah harus menstabilkan dan mengurangi utang nasional.
“Kami tidak bisa terus menerus melakukan pinjaman. Kami harus mengurangi defisit struktural, terutama dalam anggaran upah sektor publik," kata menteri itu.
Pernyataan itu telah menebarkan ketakutan di kalangan karyawan sektor publik yang kemungkinan akan menghadapi pemotongan gaji.
Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan mengalami stagnasi, terutama karena kurangnya kepastian kebijakan dan resesi.
Presiden yang baru terpilih, Cyril Ramaphosa, telah menjanjikan kepastian kebijakan untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mencegah korupsi.
Mboweni mengatakan anggaran belanja diproyeksikan sebesar R5,9 triliun untuk jangka menengah, yang digunakan untuk membayar hibah, pembangunan infrastruktur, pendanaan industrialisasi dan sumber daya manusia, serta sektor-sektor lainnya.
“Pertanian akan mendorong pemulihan ekonomi. Land Bank akan terus mendukung petani," kata dia lagi.