Enes Canli
22 Februari 2018•Update: 23 Februari 2018
Enes Canli
YERUSALEM
Ratusan migran Afrika di penjara Holot pada Rabu menggelar aksi mogok makan untuk memprotes kebijakan Israel, yang meminta kelompok migran untuk meninggalkan Israel atau dihukum penjara.
Menurut media setempat, aksi protes terjadi setelah tujuh warga Eritrea dipenjara karena menolak meninggalkan negara tersebut.
Desember lalu, Knesset (parlemen Israel) mengeluarkan sebuah undang-undang untuk mendeportasi paksa para migran.
Pemerintah Israel menawarkan USD 3.500 dan sebuah tiket untuk setiap pengungsi untuk meninggalkan Israel dengan sukarela atau menghadapi hukuman penjara. Pengungsi yang tidak bersedia meninggalkan Israel hingga 31 Maret, akan ditempatkan di balik jeruji besi.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Januari mengatakan bahwa kebijakan tersebut diperlukan untuk keamanan perbatasan. Israel tidak akan mengizinkan migrasi ilegal dan mereka akan mendeportasi "penyusup".
Menurut data Otoritas Imigrasi Israel, sekitar 55.000 migran dan pencari suaka Afrika saat ini tinggal di negara tersebut. 90 persennya berasal dari Sudan atau Eritrea.
Sebagian besar dari mereka masuk ke Israel melalui Mesir sepanjang 2006 - 2013, sebelum pagar keamanan didirikan di sepanjang perbatasan antara Israel dan Semenanjung Sinai Mesir.
Sejak 2012, Israel telah mendeportasi sekitar 20.000 migran dan pencari suaka Afrika yang memasuki negara tersebut secara ilegal.
Dari 13.764 permohonan suaka yang diajukan pada Juli, hanya 10 warga Eritrea dan satu warga Sudan yang diberi status pengungsi resmi.