Pizaro Gozali İdrus
26 Oktober 2018•Update: 27 Oktober 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Turki masih sendiri dalam upaya perang melawan terorisme karena negara-negara barat tidak mendukung Turki dalam perang melawan terorisme, kata peneliti Turki.
Peneliti Lembaga Politik, Ekonomi, dan Penelitian Sosial (SETA) Muhittin Ataman mengatakan saat Turki memerangi terorisme seperti PKK dan FETO, negara-negara barat justru tidak melakukannya.
Dia mencontohkan kebijakan Amerika Serikat yang menggolongkan PKK sebagai terorisme, tapi tidak mau mengakui YPG/YPD sebagai kelompok teror.
AS bahkan menggelontorkan dana USD200 juta untuk kelompok teroris YPG/YPD.
“Padahal YPG/YPD adalah bagian dari PKK,” ujar Ataman dalam International Conference on Strategic and Global Studies 2018 di Jakarta pada Kamis.
AS, lanjut Ataman, bukanlah satu-satunya negara yang mendukung kelompok PKK. Sebab Iran dan Uni Eropa juga mendukung aktivitas PKK.
Ataman mengatakan Turki adalah negara yang paling merasakan dampak dari serangan terorisme.
Selama empat dekade, kata Ataman, 40.000 orang telah kehilangan nyawa di Turki akibat serangan PKK.
Daesh juga menargetkan kota-kota di Turki untuk melancarkan aksi terorisme.
Untuk melawan terorisme, kata Ataman, Turki secara aktif berpartisipasi dalam usaha-usaha PBB dalam melawan terorisme.
Bahkan Turki memberikan daerahnya sebagai pangkalan militer negara-negara asing untuk melawan Daesh.
“Turki telah memainkan peran besar dalam koalisi global,” kata dia.