İqbal Musyaffa
03 Oktober 2019•Update: 04 Oktober 2019
JAKARTA
Bank Dunia memprediksi akan ada 6,8 miliar penduduk dunia yang tinggal di perkotaan pada 2050 mendatang.
Global Director Urban, Resilience & Land World Bank Sameh Wahba mengatakan jumlah tersebut meningkat dari jumlah penduduk perkotaan saat ini yang sebanyak 4,2 miliar.
Menurut dia, peningkatan tersebut dalam setahun setara dengan jumlah seluruh penduduk Turki dan dalam 3 tahun setara dengan jumlah seluruh penduduk Indonesia.
Wahba mengatakan urbanisasi menjadi hal yang penting bagi suatu negara guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat.
“Tidak ada negara kelas menengah manapun bisa mencapai pendapatan tinggi tanpa urbanisasi. Kalau kota tidak menggeliat, maka tidak bisa jadi faktor pengentasan kemiskinan,” jelas Wahba dalam diskusi di Jakarta, Kamis.
Wahba mengatakan setiap 1 persen peningkatan urbanisasi, bisa diasosiasikan dengan penurunan kemiskinan minimal 1 persen.
“Urbanisasi haris dikelola dengan baik untuk bisa memberikan manfaat pengentasan kemiskinan,” lanjut dia.
Karena itu, lanjutnya, World Bank menekankan ke pemerintah jika urbanisasi tidak digencarkan maka akan menimbulkan beberapa dampak buruk.
"Tekanan ke pemerintah daerah dan pelaksana layanan bila tidak dikelola akan timbul kemacetan, polusi, daerah kumuh, dan buruknya infrastruktur," ujar Sameh.
Sameh mengimbau urbanisasi harus dilakukan secara inklusif untuk mengurangi ketimpangan antara kaya dan miskin serta memperluas akses kesempatan masyarakat secara merata agar tidak menciptakan konflik dan kekerasan baru.
Kota juga harus dibangun dengan memiliki daya tahan terhadap bencana alam yang menjadi tantangan dalam pembangunan berkelanjutan.