İqbal Musyaffa
18 Desember 2018•Update: 18 Desember 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai batu bara masih memiliki peranan yang cukup besar sebagai salah satu pemenuhan energi di masa depan berdasarkan pada hasil penemuan dan riset terkini.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Energi Mineral, Batubara dan Listrik Boy Garibaldi Thohir mengatakan Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di dunia juga merasakan kontribusi dari batu bara terhadap perekonomian yang berasal dari total penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), per 13 September 2018, PNBP minerba mencapai Rp33,55 triliun.
Jumlah tersebut telah melampaui target PNBP tahun ini yang dipatok sebesar Rp32,09 triliun atau sudah terealisasi 104,5 persen.
“Proporsi PNBP tersebut 70 persen berasal dari batu bara, sedangkan 30 persennya disumbang dari sektor mineral,” ujar Boy.
Batu bara Indonesia menurut dia, dikenal sebagai batu bara thermal paling ramah lingkungan di dunia, dengan penggunaan teknologi baru yang diterapkan pada proyek pembangkit listrik yang diharapkan dapat meminimalisasi dampak lingkungan.
Saat ini lanjut Boy, telah terdapat teknologi pembangkit listrik tenaga uap yang dapat mengurangi dampak emisi CO2 yang cukup signifikan dan hemat bahan bakar, yaitu teknologi superkritikal atau ultra-superkritikal.
“Potensi batu bara kita masih relatif besar. Kita berharap dapat didukung dengan kebijakan dan regulasi yang tepat,” ujar Boy di Jakarta, Selasa.
Regulasi yang tepat menutur dia, agar pengembangan dan pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi bisa berkembang di masa depan.
Boy menambahkan batu bara masih menjadi sumber energi utama kelistrikan nasional jika dibandingkan dengan sumber listrik lainnya seperti gas alam dan panas bumi.
“Adanya kepastian program penyediaan listrik dan program 35 GW akan mendorong terciptanya efek berganda yang positif bagi pertumbuhan ekonomi hingga ke daerah-daerah,” imbuh Boy.
Di sisi lain, Indonesia menurut Boy, juga memiliki posisi geografis strategis untuk pasar negara-negara berkembang seperti China dan India.
Berdasarkan data IEA, permintaan batu bara global akan stagnan hingga 2022 dan kondisi tersebut juga mempengaruhi permintaan batu bara di China yang menurun secara perlahan.
Boy menambahkan pada tahun 2017, rebound ekonomi dan output hidro yang rendah telah mendorong pertumbuhan permintaan batu bara di China setelah tiga tahun menurun.
Meskipun dorongan energi terbarukan dan harga gas yang lebih rendah, permintaan daya tambahan sebagian masih dipenuhi oleh batu bara.
Sebagai informasi, sekitar 66 persen dari pembangkit listrik di tanah air hingga saat ini adalah pembangkit listrik berbasis batu bara (PLTU).
Pasokan batu bara untuk kebutuhan PLTU dalam negeri diperkirakan akan meningkat signifikan dalam kurun waktu lima tahun kedepan. Realisasi di tahun 2015 sekitar 70,8 juta ton dan di tahun 2020 diperkirakan sekitar 177,5 juta ton.