İqbal Musyaffa
04 Oktober 2018•Update: 04 Oktober 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia menegaskan likuditas perbankan mencukupi dan sektor perbankan juga masih memiliki daya tahan yang bagus.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan pada Kamis, BI selalu memperhatikan likuiditas perbankan meskipun sudah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen.
“Walaupun BI sudah menaikkan suku bunga 150 basis poin, tapi kenaikan bunga di pasar time deposit belum mencapai 50 basis poin, jadi masih terkendali,” jelas Mirza.
Menurut dia, BI selalu siap membuka keran likuiditas melalui skema term repo. Term repo, ujar Mirza, pernah dibuka pada Mei dan Juni.
“BI juga pasti akan masuk ke pasar untuk tambah likuiditas jika memang likuiditas rupiah mengetat,” tegas dia.
Ketahanan sektor perbankan, menurut dia, juga masih kuat karena level capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal perbankan masih di atas 20 persen untuk bank BUKU 1 hingga BUKU 4.
Level minimum CAR perbankan saat ini sebesar 8,5 persen, sehingga menurut Mirza dengan level saat ini likuiditas perbankan masih aman.
Oleh karena itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah masuk ke level Rp15 ribu per dolar AS menurut Mirza, masih aman. Volatilitas nilai tukar sudah terjadi sejak 2013 yang saat itu nilai tukar rupiah tergerus dari level Rp10 ribu hingga ke Rp13 ribu.
“Tapi bukan Indonesia saja yang mengalami. India, Filipina, Meksiko, Brasil, Afrika Selatan, bahkan Australia nilai tukarnya juga tergerus,” imbuh Mirza.
Namun yang terpenting, menurut dia, adalah terjaganya pasokan dan permintaan di pasar keuangan serta tingkat inflasi dapat terjaga dengan baik.
“Jangan hanya melihat depresiasi rupiah dari levelnya saja,” Mirza menekankan.