İqbal Musyaffa
06 Maret 2018•Update: 07 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan Indonesia berhasil merebut kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya.
Hal tersebut disampaikan untuk menanggapi laporan dari World Bank yang dilansir Business Insider. Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di posisi nomor dua sebagai tempat investasi terbaik setelah Filipina.
“Investor mengambil keputusan investasi bukan berdasar kondisi saat ini, tapi berdasarkan prospek ke depan yang paling menjanjikan,” jelas Lembong di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, reformasi kebijakan untuk menggenjot investasi di Indonesia memang masih terasa lamban. Namun, secara konsisten terus membaik.
Lembong menambahkan, investor menggunakan logika strategi ekonomi yang rasional. Pembenahan infrastruktur yang dilakukan Indonesia membuat beberapa sektor ekonomi khususnya di bidang pariwisata melonjak tinggi.
“Tanpa pembenahan infrastruktur bandara misalnya, pariwisata kita tidak akan sebaik sekarang. Ini yang dilihat investor,” imbuh dia.
Meski begitu, Lembong mengakui persaingan merebut dana investasi secara global semakin sengit. Apabila Indonesia tidak gesit mengambil mengambil peluang, maka akan tertinggal dengan negara lainnya.
Negara-negara seperti Pakistan, Bangladesh, Srilanka, serta negara di kawasan Timur Tengah sudah mulai melakukan banyak reformasi ekonomi.
Dia memberi contoh Arab Saudi yang melakukan reformasi sangat luar biasa dengan membuka berbagai sektor yang sebelumnya tidak ada seperti bioskop, dan konser musik.
“Sekarang mereka undang investor internasional yaitu perusahaan bioskop AMC yang terbesar di AS untuk masuk,” jelas Lembong.
Indonesia masih kalah soal investasi asing
Pada tingkat regional, Lembong juga mengakui bahwa saat ini investasi asing yang masuk ke Indonesia masih kalah dari Thailand, Vietnam, dan Malaysia, serta terancam kalah dengan Filipina.
Banyaknya investasi asing yang masuk membuat negara-negara tersebut menikmati lonjakan ekspor yang signifikan
Sebelum negara-negara tersebut menikmati lonjakan ekspor, Lembong mengatakan, 10 tahun sebelumnya negara-negara tetangga tersebut menggenjot lonjakan investasi.
“Bangun pabrik dulu baru ada barang yang bisa diekspor. Kalau kita terus kalah di investasi, kita akan semakin kalah di ekspor,” jelas dia.
Salah satu upaya perbaikan investasi yang sedang dikaji pemerintah saat ini adalah perluasan tax holiday dan tax allowance.
Melalui perbaikan skema insentif pajak tersebut diharapkan bisa memicu investasi masuk dan membuka lapangan kerja serta peningkatan produksi barang, meskipun tidak ada setoran pajak yang masuk.
“Pada tahun ini akan ada reformasi sistem insentif fiskal yang signifikan,” imbuh Lembong.