İqbal Musyaffa
31 Juli 2018•Update: 01 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga belum dapat berkontribusi maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi karena terhambat oleh defisit perdagangan.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menyampaikan hal tersebut dalam diskusi di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, tingkat konsumsi rumah tangga mulai membaik setelah satu setengah tahun mengalami perlambatan. Perbaikan ini terlihat dari penjualan ritel pada kuartal kedua yang tumbuh 6,39 persen lebih tinggi dari kuartal pertama sebesar 0,72 persen dan kuartal kedua tahun lalu yang tumbuh 4,94 persen.
“Penjualan kendaraan bermotor juga naik pesat pada semester pertama tahun ini,” ungkap Faisal.
Dia merinci penjualan mobil pada semester I tahun ini sebesar 4 persen lebih baik dari periode sama tahun lalu yang tumbuh 0,26 persen. Penjualan sepeda motor juga melonjak menjadi 11,19 persen dari sebelumnya -8,85 persen pada periode sama tahun lalu.
“Proporsi pengeluaran masyarakat untuk konsumsi pada bulan April hingga Mei tahun ini juga meningkat dari 64,6 persen pada periode sama tahun lalu menjadi 66,1 persen,” urai Faisal.
Rata-rata proporsi tabungan menurut dia justru turun pada periode April-Mei tahun ini menjadi 19,8 persen dari sebelumnya 20,7 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Akan tetapi, konsumsi rumah tangga yang tumbuh positif menurut dia belum mampu mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga proyeksi pertumbuhan tahun ini menurut Core sebesar 5,1 hingga 5,2 persen.
Hambatan terbesar pada pertumbuhan ekonomi domestik menurut analisa dia adalah defisit perdagangan yang relatif besar dengan jumlah USD1,02 miliar pada semester I tahun ini.
“Capaian ini jauh lebih buruk dari semester I tahun lalu yang surplus USD7,67 miliar,” lanjut Faisal.
Ekspor pada paruh pertama tahun ini hanya tumbuh 10,06 persen jauh lebih lambat dari impor yang tumbuh 23,14 persen. Kinerja net ekspor ini menurut dia menjadi faktor penekan pertumbuhan.
“Harga minyak yang naik dan pelemahan rupiah telah mengakselerasi pertumbuhan impor hingga menyebabkan defisit perdagangan,” jelas dia.
Meski begitu, Faisal melihat pertumbuhan impor Indonesia masih produktif. Impor untuk barang modal tumbuh menjadi 31,7 persen pada semester I tahun ini lebih baik dari periode sama tahun lalu yang tumbuh 1,82 persen.
Begitupun juga dengan impor bahan baku dan penolong yang tumbuh 21,71 persen lebih baik dari periode sama tahun lalu yang tumbuh hanya 11,21 persen.
“Tapi yang perlu diperhatikan adalah impor barang konsumsi juga tumbuh pesat 20,82 persen lebih tinggi dari semester I tahun lalu sebesar 9,96 persen,’ lanjut Faisal.