İqbal Musyaffa
10 April 2019•Update: 10 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dari 3,7 persen menjadi 3,3 persen.
Lembaga tersebut juga memperkirakan ekonomi global baru akan beranjak membaik pada 2020 menjadi 3,6 persen, meskipun proyeksi tersebut juga terkoreksi 0,1 persen dari proyeksi sebelumnya.
Dalam laporan tersebut tertulis bahwa pemangkasan proyeksi pertumbuhan tersebut berdasarkan perkiraan pertumbuhan global akan turun pada paruh pertama 2019 dan akan menguat pada paruh kedua.
“Pengambilan yang diproyeksikan pada paruh kedua tahun ini berdasarkan pada penumpukan stimulus kebijakan yang sedang berlangsung di China,” ujar laporan tersebut, Rabu.
IMF mengatakan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun lalu setelah sempat menguat pada 2017 dan paruh pertama 2018 mencerminkan faktor-faktor yang mempengaruhi ekonomi global.
Perlambatan ekonomi 2019 menurut IMF dipengaruhi oleh sentimen negara maju dan berkembang dengan tingginya ketidakpastian politik dalam melakukan langkah kebijakan serta kesulitan pencapaian kesepakatan dalam berbagai isu kontroversial.
“Ekonomi kawasan Eropa juga kehilangan momentum yang diharapkan karena kepercayaan konsumen dan bisnis melemah,” tulis IMF.
Pelemahan tersebut terlihat dari terganggunya produksi mobil di Jerman karena adanya pengenalan standar emisi baru, turunnya investasi di Italia, dan melunaknya permintaan eksternal terutama dari negara berkembang di Asia.
Selain itu, bencana alam juga turut mempengaruhi perlambatan ekonomi karena membuat aktivitas ekonomi di Jepang melambat.
Menurut IMF, pertumbuhan China akan melambat mengikuti kombinasi dari pengetatan peraturan yang diperlukan untuk mengendalikan shadow bankin dan peningkatan ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Ketegangan perdagangan juga semakin menggerogoti kepercayaan bisnis dan memburuknya sentimen pasar keuangan.
Kondisi keuangan yang mengetat membuat pasar negara berkembang rentan, begitupun juga untuk ekonomi negara maju sehingga membebani permintaan global.
Beban pada perekonomian global sedikit mereda pada 2019 saat the Fed memberikan sinyal untuk memberikan kebijakan moneter yang lebih akomodatif sehingga pasar menjadi lebih optimis dengan tercapainya kesepakatan perdagangan AS dan China.
IMF juga memperkirakan pada tahun ini sentimen pada pasar keuangan global akan berkurang terutama di kawasan Eropa serta terjadinya stabilisasi bertahap pada perekonomian negara berkembang akibat tekanan ekonomi, termasuk di Argentina dan Turki.
“Momentum yang membaik untuk pasar negara berkembang diproyeksikan akan berlanjut hingga 2020, terutama tercermin dari perkembangan pada negara yang saat ini mengalami tekanan makroekonomi,” urai laporan IMF.
Namun sebaliknya, aktivitas ekonomi pada negara maju diproyeksikan akan terus melambat secara bertahap karena dampak stimulus fiskal AS yang memudar dan pertumbuhan yang cenderung sederhana.