İqbal Musyaffa
26 November 2019•Update: 26 November 2019
JAKARTA
Lembaga riset Institute for Development of Economic and Finance (Indef) memproyeksikan pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan mencapai 5 persen atau hanya 4,8 persen.
Direktur Riset Indef Berly Martawardaya mengatakan faktor penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi tersebut karena melemahnya pertumbuhan ekspor dan investasi.
“Sepertinya kita tidak menikmati kenaikan (ekspor dan investasi) seperti 5-10 tahun lalu,” jelas Berly dalam diskusi di Jakarta, Selasa.
Dia mengatakan ekspor sudah turun 8 persen pada tahun ini begitupun dengan investasi yang belum tumbuh siginifikan.
Apabila biasanya setelah pemilu ada kenaikan investasi, namun masalah perang dagang dan geopolitik membuat pertumbuhan investasi sulit dicapai Indonesia pada tahun depan.
Meski begitu, Berly melihat pada sektor konsumsi rumah tangga masih akan stabil tanpa ada banyak perubahan dengan 55-57 persen pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi sehingga jangan sampai konsumsi rumah tangga menurun.
“Tinggal dua mesin pertumbuhan lainnya, mesin konsumsi dan mesin APBN dan APBD yang perlu diefisiensikan,” kata Berly.
Oleh karena itu, dia mengatakan APBN dan APBD harus bisa menstimulasi konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.
Berly mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih rendah dari target dalam APBN 2020 yang sebesar 5,3 persen adalah angka yang realistis.
Meskipun melambat, Berly mengatakan pertumbuhan ekonomi 2020 tidak akan seburuk 2008 karena tidak terjadi krisis seperti tahun 2008-2009.
“Pada 2009 pertumbuhan masih 4 persen jadi kita juga jangan terlalu pesimis. Tahun depan sedikit melambat, tapi bagaimana kita memitigasi dan meminimalisir perlambatan,” jelas Berly.
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan perlambatan ekonomi global yang masih terus terjadi sehingga menyebabkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indef agak pesimistis.
“Negara mitra dagang Indonesia pertumbuhan ekonominya pada 2020 juga slowdown China di bawah 6 persen, AS di bawah 2 persen, dan Jepang di bawah 1 persen,” jelas Tauhid.
Oleh karena itu, dia mengatakan perlambatan ekonomi di negara mitra akan menyebabkan permintaan barang dari Indonesia turun sehingga kontribusi perdagangan terhadap perekonomian juga akan turun.
Tauhid menambahkan pertumbuhan investasi asing yang di bawah target 8 persen tidak terlalu menggembirakan, apalagi investasi yang masuk di sektor tersier yang menyebabkan penciptaan lapangan pekerjaan dan penciptaan proses produksi tidak berjalan baik.
“Pertumbuhan investasi hanya menumbuhkan sekitar 230-240 ribu tenaga kerja baru, padahal kebutuhan normal sekitar 400-500 ribu. Jadi kami yakin dari sisi kedua itu menyebabkan pertumbuhan turun,” ungkap Tauhid.