Iqbal Musyaffa
22 September 2020•Update: 23 September 2020
JAKARTA
Pemerintah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020, dengan perkiraan kontraksi menjadi minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan revisi ini lebih dalam dari proyeksi sebelumnya yaitu minus 1,1 - 0,2 persen.
“Ini artinya negatif teritori pertumbuhan kemungkinan terjadi di kuartal ketiga dan berlangsung hingga kuartal keempat yang kita upayakan bisa dekati 0 persen,” ujar Menteri Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual, Selasa.
Menteri Sri Mulyani menguraikan hal ini terjadi karena konsumsi rumah tangga diperkirakan belum pulih pada kuartal ketiga, masih pada minus 3 persen hingga minus 1,5 persen.
Sedangkan sepanjang 2020 perkiraan konsumsi rumah tangga tumbuh minus 2,1 persen hingga minus 1 persen.
Sementara itu, konsumsi pemerintah pada kuartal ketiga diperkirakan tumbuh positif 9,8 persen hingga 17 persen dan untuk seluruh tahun tumbuh 0,6 persen hingga 4,8 persen, ujar Menteri Sri Mulyani.
“Pemerintah belanja secara all out sebagai ekspansi fiskal untuk countercyclical,” lanjut Menteri Sri Mulyani.
Sedangkan investasi pada kuartal ketiga diperkirakan minus 8,5 persen hingga minus 6,6 persen, pada seluruh diperkirakan minus 5,6 persen hingga minus 4,4 persen.
Ekspor juga tumbuh negatif pada kisaran minus 13,9 persen hingga minus 8,7 persen di kuartal ketiga ini, sedangkan seluruh tahun minus 9 persen hingga minus 5,5 persen.
Kontraksi juga terjadi pada impor yang berkaitan dengan manufaktur, karena bahan baku dan barang modal sebagian besar masih diimpor.
Menteri Sri Mulyani mengatakan impor diperkirakan terkontraksi sangat dalam yakni minus 26,8 persen hingga minus 16 persen pada kuartal tiga.
Sedangkan seluruh tahun impor diperkirakan terkontraksi minus 17,2 persen hingga minus 11,7 persen.
“Neraca perdagangan kita memang surplus, tapi akibat kontraksi impor yang lebih dalam dibanding ekspor sehingga menunjukkan pemulihan yang masih rapuh,” kata dia.
Selain itu, Menteri Sri Mulyani mengatakan proyeksi beberapa lembaga internasional terhadap ekonomi Indonesia juga menunjukkan hal yang serupa.
Rata-rata memproyeksi pada zona negatif, kecuali Bank Dunia yang memproyeksi pertumbuhan 0 persen, ujar dia.
OECD memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini minus 3,3 persen, sedikit lebih baik dari proyeksi sebelumnya minus 3,9 persen hingga minus 2,8 persen.
Kemudian Asian Development Bank memprediksi pertumbuhan Indonesia 2020 minus 1 persen, Bloomberg memprediksi minus 1 persen, serta IMF memprediksi minus 0,3 persen.
“Tahun depan proyeksi pertumbuhan tetap sesuai RUU APBN 2021 yakni sebesar 4,5 hingga 5,5 persen dengan titik tengah 5 persen,” ujar dia.
Lembaga internasional juga memprediksi pertumbuhan tahun depan pada kisaran 5 hingga 6 persen.
OECD memperkirakan pertumbuhan Indonesia 2021 sebesar 5,3 persen, ADB 5,3 persen, Bloomberg 5,4 persen, IMF 6,1 persen, dan Bank Dunia 4,8 persen.
“Semua proyeksi ini sangat tergantung pada perkembangan kasus Covid-19 yang mempengaruhi aktivitas ekonomi,” lanjut dia.