Muhammad Nazarudin Latief
30 Juli 2019•Update: 31 Juli 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut realisasi investasi triwulan II/2019 mencapai Rp200,5 triliun, naik 13,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Investasi itu menyerap sebanyak 255 ribu lebih orang tenaga kerja Indonesia,” ujar Kepala BKPM Thomas Lembong, dalam konferensi pers di kantor BKPM, Jakarta, Selasa.
Menurut dia, jumlah investasi triwulan ini juga menyumbang 25,3 persen target tahun ini sebesar Rp792 triliun.
Dari jumlah tersebut, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp95,6 triliun (naik 18,6 persen) dan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 104,9 triliun (naik 9,6 persen)
“Ini tidak lepas dari kondisi politik dalam negeri yang semakin stabil setelah penetapan presiden dan wakil presiden periode 2019 – 2024,” ujar Thomas.
Lokasi yang menyedot banyak investasi antara lain Jawa Barat sebesar Rp31,4 triliun atau 15,6 persen. Kemudian Jakarta sebesar Rp29,8 triliun atau 14,9 persen. Disusul Jawa Timur sebesar Rp19,4 triliun atau 9,7 persen, Jawa Tengah sebesar Rp14,7 triliun, 7,4 persen dan Banten sebesar Rp12,1 triliun atau 6,0 persen.
Sektor yang paling banyak menarik investasi adalah transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp34,5 triliun atau 17,2 persen. Kemudian listrik, gas dan air sebesar Rp23,7 triliun (11,8 persen), industri makanan sebesar Rp17,2 triliun (8,6 persen); tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan sebesar Rp16,9 triliun (8,4 persen); dan pertambangan sebesar Rp15,1 triliun (7,5 persen).
Sedangkan negara-negara asal investasi terbesar adalah Singapura sebanyak USD1,7 miliar (24,5 persen); Jepang sebesar USD1,2 miliar (17,5 persen); China sebesar USD1,1 miliar (16,2 persen); Hongkong sebesar USD0,7 miliar (10,4 persen) dan Belanda sebesar USD0,4 miliar (5,3 persen).
“Terlihat juga bahwa investasi infrastruktur yang membutuhkan anggaran besar dan sifatnya multi-years, tetap ada realisasinya meski kondisi ekonomi global dan regional yang penuh tantangan dan ketidakpastian,” ujar Thomas.