Iqbal Musyaffa
12 Oktober 2017•Update: 12 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah Indonesia saat ini gencar mencari investasi yang dapat membuka banyak lapangan pekerjaan. Dalam hal ini, sektor yang sedang digalakkan adalah industri gaya hidup (lifestyle).
Namun, hal itu tak berarti pemerintah mengenyampingkan investasi padat modal yang juga sangat diperlukan untuk menggerakkan roda perekonomian sebagaimana disampaikan oleh Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong di Jakarta, Kamis.
“Industri lifestyle seperti kafe, restoran, pariwisata, dan fashion sedang berkembang dan membutuhkan banyak pekerja,” ujar Lembong.
Investasi sektor gaya hidup menurut dia selain akan membuka banyak lapangan kerja, juga berpotensi untuk menggarap pasar kelas menengah domestik dan di negara lain.
Perkembangan ekonomi di Tiongkok, India, Timur Tengah, dan Afrika menurut Lembong turut menciptakan banyak masyarakat kelas menengah baru yang akan digarap oleh pemerintah.
“Kita akan jual produk-produk gaya hidup kita melalui internet mengikuti perkembangan gaya anak muda,” ujar dia.
Investasi pada sektor gaya hidup diakui Lembong merupakan paradigma baru yang terus berkembang dan pemerintah akan turut mengikuti perkembangan tersebut.
Pertumbuhan investasi industri ini khususnya pada pariwisata sekitar 35-40 persen per tahun, jauh di atas rata-rata pertumbuhan investasi keseluruhan dengan kisaran 12-14 persen.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga mengakui bahwa pemerintah saat ini fokus memasarkan komoditas untuk menunjang gaya hidup seperti kopi dan kakao. Variasi produk yang dipasarkan Indonesia pun semakin beragam.
“Kita juga fokus menggarap pasar non tradisional selain tentunya mempertahankan pasar tradisional kita,” tambah dia.
Salah satu upaya meningkatkan pemasaran produk Indonesia menurut dia adalah melalui penyelenggaraan Trade Expo Indonesia 2017 untuk menarik pembeli produk Indonesia dan investor dari luar negeri.
Acara yang berlangsung mulai 11-15 Oktober ini diperkirakan dapat meraih total nilai kontrak USD 223,23 juta. “Nilai ini akan terus bertambah,” ujar dia.
Hingga saat ini, Enggartiasto mengatakan sudah terdapat penandatanganan 24 MoU kontrak dagang buying mission dari 12 negara yang mayoritas berasal dari Afrika dan Timur Tengah dengan nilai Rp 2,05 triliun.