İqbal Musyaffa
15 November 2017•Update: 16 November 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan Indonesia sanggup membayar pinjaman luar negeri terbaru dari Japan International Cooperation Agency (JICA).
Pinjaman itu senilai 118,9 miliar yen atau Rp14,3 triliun untuk pembangunan tahap pertama pelabuhan Patimban di Subang dan 8,3 miliar yen atau Rp900 miliar untuk membangun sarana pendidikan di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.
“Saya pastikan pinjaman ini akan digunakan secara bijaksana dan produktif,” tegas Sri, penandatanganan perjanjian pinjaman dengan Rabu, di Jakarta.
Landasan keyakinan Sri adalah suku bunga yang ditetapkan untuk kedua proyek ini relatif ringan.
Untuk proyek pembangunan Pelabuhan Patimban ditetapkan suku bunga tetap sebesar 0,1 persen per tahun dengan masa tenggang 12 tahun dan masa pembayaran kembali 28 tahun. “Jadi jangka waktu pinjaman selama 40 tahun,” jelas dia.
Setelah terbangun Maret 2019 nanti, Pelabuhan Patimban bisa mendukung pengembangan industri dan manufaktur di Subang serta Jawa Barat. Dengan begitu, tegas Sri, harga produk tak terlalu terbebani biaya transportasi dan logistik mahal, serta Indonesia mampu berkompetisi di kancah regional.
Sedang pinjaman untuk sarana pendidikan di UGM, menurut Sri, merupakan pinjaman kedua menggunakan skema bunga mengambang Libor + 10 basis poin per tahun. Dengan masa tenggang tujuh tahun, pinjaman ini memiliki masa pengembalian 18 tahun dengan total masa waktu pinjaman 25 tahun.
Hasil pinjaman ini, akan dibangun sepuluh pusat pembelajaran yang tersebar di seluruh Yogyakarta. Dengan begitu, “Akan lebih banyak wirausahawan muda yang bisa mengakses manfaat dalam ide menjadi produk jadi,” jelas Sri.
Sri juga mengatakan fokus pemerintah kali ini adalah pengembangan infrastruktur dan pemberdayaan sumber daya manusia. “Dua pinjaman ini sangat penting dan sejalan dengan prioritas pemerintah,” tegas Sri.