İqbal Musyaffa
02 Agustus 2018•Update: 02 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Wakil Presiden (RI) Jusuf Kalla menyebut pemilu bukan merupakan ancaman bagi perekonomian nasional, tapi justru sebagai salah satu motor pendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam sebuah seminar di Jakarta, Kamis, Wapres yang biasa disebut JK mengatakan, tingkat konsumsi akan meningkat karena dalam realitanya banyak calon legislatif termasuk calon presiden melakukan belanja untuk acara, baliho, serta membagikan uang ke rakyat.
“Konsumsi di pedesaan khususnya bisa naik akibat pemilu,” ujar JK.
Selain itu, belanja yang dilakukan KPU sebagai penyelenggara pemilu juga akan menambah tingginya tingkat konsumsi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Media pun menurut dia juga akan terdampak positif dengan ramainya iklan kampanye yang masuk.
“Belum lagi nanti akan ada pencetakan 200 juta kertas suara dan belanja lainnya,” tambah dia.
Berdasarkan data, menurut JK, pertumbuhan ekonomi justru meningkat di tahun pemilu. Pada tahun 2004 yang merupakan tahun pemilu memiliki angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,13 persen melampaui pertumbuhan tahun 2003 yang sebesar 4,1 persen.
Selanjutnya, pada tahun pemilu 2009 menurut JK memang ekonomi hanya tumbuh 4,5 persen lebih rendah dari tahun 2008 yang tumbuh 6,1 persen. Namun, perlambatan pertumbuhan bukan karena pemilu, melainkan karena krisis global yang terjadi pada saat itu.
Begitupun pertumbuhan ekonomi tahun pemilu 2014 yang tumbuh 5,02 persen lebih rendah dari 2013 yang tumbuh 5,58 persen juga bukan karena pemilu, tapi karena melemahnya harga-harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia
Pemilu di Indonesia lebih aman
Menurut JK, dalam setiap pemilu di Indonesia tidak pernah terjadi keributan dan konflik berarti sebagaimana pemilu di banyak negara lainnya. Bahkan pada pelaksanaan pilkada serentak bulan Juni lalu juga berjalan relatif aman.
“Sekarang ketakukan pada pemilu sudah berkurang dan orang bisa lebih tenang. Tidak ada efek besar pemilu bagi stabilitas perekonomian,” lanjut dia.
Akan tetapi, Wapres mengakui memang investor dan pengusaha masih wait and see menunggu siapa saja yang akan maju menjadi calon presiden dan arah kebijakan ekonominya.
“Pemilu harusnya memberikan harapan bagi ekonomi kita menjadi lebih baik siapapun yang menang,” imbuh Wapres.
Siapapun yang menang, lanjut JK, harus berusaha memastikan kepada pengusaha dan investor dan bersahabat kepada perekonomian.
“Presiden tidak hanya disenangi masyarakat, tapi juga bisa menyenagkan masyarakat,” tambah dia.