Muhammad Latief
27 Oktober 2017•Update: 28 Oktober 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Wilayah kerja (WK) minyak dan gas (migas) di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun.
Kini hanya ada 264 WK, dari sebelumnya ada 270 WK.
“Jumlah terakhir juga bisa terus turun,” ujar Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi di Jakarta Jumat.
Dari 264 WK tersebut, sebanyak 87 WK sudah masuk pada tahap eksploitasi, sedangkan 126 WK lain masih dalam tahap eksplorasi.
Sedangkan 51 lain adalah WK eksplorasi non konvensional dengan 44 WK yang masih aktif dan 7 WK dalam proses terminasi.
Menurut Amien, ada beberapa kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas tidak bisa melaksanakan komitmen kerjasama hingga periode eksplorasi berakhir akibat kekurangan modal.
Kinerja SKK Migas cukup baik
Secara umum, kinerja SKK Migas hingga September 2017 memenuhi banyak target.
Menurut Amien, dalam bidang penahanan laju penurunan produksi tahun 2017 yang ditarget tidak lebih besar dari 5 persen, SKK migas berhasil menahan laju penurunan migas pada angka 3 persen.
Sementara itu, peningkatan cadangan minyak dan gas yang ditarget sebesar 60 persen (barrel oil equivalent) hanya tercapai 50,90 persen.
Kemudian target lifting minyak yang ditarget 815 Mbopd hanya tercapai 797 Mbopd (98 persen).
Lifting gas, ditarget 6.440 MMscfd tercapai 6.376 MMscfd (99 persen).
Sedangkan total lifting minya dan gas dari target 1.965 Mboedpd tercapai 1.934 Mboepd (98 persen)
SKK Migas juga dibebani target untuk pengendalian cost recovery maksimal USD 10,71 miliar,yang kemudian terealisasi sebesar USD 7,76 miliar atau 73 persen.
"Kalau cost recovery itu makin sedikit makin baik,” ujarnya.
Sayangnya realisasi penerimaan negara sebesar USD 12,20 miliar hanya tercapai USD 9,59 miliar.