İqbal Musyaffa
26 Maret 2018•Update: 27 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Keputusan perusahaan minyak dan gas PT Pertamina untuk menaikkan harga jual bahan bakar minyak jenis Pertalite sebesar Rp200 per liter akan menggerus daya beli masyarakat.
Kenaikan harga Pertalite diprediksi akan berdampak pada kenaikan harga beberapa kebutuhan pokok. Akibatnya daya beli masyarakat akan tergerus. Meski begitu, inflasi masih akan tetap terjaga rendah.
“Ketika kenaikan harga energi berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok, dengan sendirinya permintaan masyarakat untuk barang non-pokok menurun. Ini yang sebabkan inflasi secara umum rendah,” kata Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati seusai diskusi holding BUMN migas di Jakarta, Senin.
Rendahnya Inflasi menurut dia akibat dari rendahnya permintaan untuk barang-barang non-pokok karena penghasilan masyarakat habis untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Inflasi rendah pada tahun lalu di angka 3,6 persen termasuk inflasi rendah di Januari dan Februari masing-masing sebesar 0,62 persen dan 0,17 persen menurut dia akibat dari rendahnya daya beli masyarakat.
“Kalau daya beli turun, konsumsi rumah tangga tidak akan tumbuh di atas 5 persen. Ini terlihat indikasinya penjualan ritel Januari-Maret minus 5 persen,” ungkap dia.
Enny mengatakan, hal ini harus diantisipasi terlebih lagi dalam dua bulan ke depan akan masuk ke bulan Ramadhan. Tanpa ada tekanan di harga energi saja, selama Ramadhan menurut dia akan ada kenaikan harga.
Namun, kenaikan harga Pertalite menurut dia tidak dapat dihindari. Kenaikan harga tersebut merupakan konsekuensi logis dari kenaikan harga minyak mentah dunia.
Dia menjelaskan, dalam APBN 2018, asumsi harga minyak ditetapkan hanya USD48 per barel. Namun saat ini harga minyak mentah dunia sudah di atas USD60. Ditambah lagi dengan melemahnya nilai tukar melampaui asumsi APBN sebesar Rp13.400 per dolar AS.
“Ongkos produksi Pertamina pasti naik. Dengan sendirinya, harga BBM non-subsidi mengikuti formulasi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar,” urai dia.