Iqbal Musyaffa
29 Januari 2020•Update: 30 Januari 2020
JAKARTA (AA) – Kementerian Keuangan mengatakan Indonesia saat ini masih menghadapi masalah defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sehingga dihadapkan pada opsi kebijakan yang sulit untuk memperbaikinya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan CAD menjadi prioritas Presiden yang menginginkan ada perubahan dalam struktur ekonomi Indonesia.
“Banyak negara yang selalu menghadapi pilihan kebijakan yang tidak mudah seperti substitusi impor atau orientasi ekspor, serta untuk penggunaan domestik atau kah ekspor. Ini policy yang butuh respons berbeda,” jelas Menteri Sri Mulyani di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan dalam sejarah dunia, banyak negara yang gagal melakukan substitusi impor sehingga menjadi tidak kompetitif dan tidak bisa menjadi eksportir tangguh.
“Hanya Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan China yang bisa sukses. Di Amerika Latin mereka juga melakukan itu, tapi tidak berhasil melakukan perbaikan struktur ekonomi,” lanjut dia.
Menteri Sri Mulyani menambahkan bagi Indonesia yang terpenting adalah efektivitas dalam menggunakan instrumen kebijakan dan kemampuan mengeksekusi dan melaksanakan desain kebijakan.
Dia mengakui bahwa defisit transaksi berjalan (CAD) merupakan titik lemah dalam struktur ekonomi Indonesia saat ini karena ekspor impor barang dan jasa yang melambat membuat langkah ekonomi Indonesia melemah.
Menteri Sri Mulyani mengatakan apabila ekonomi Indonesia ingin lari kencang, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak boleh menimbulkan ketidakseimbangan.
Pemerintah terus memperhatikan komposisi struktur ekonomi yang memerlukan penyesuaian agar bisa seimbang.
Pada 2019 terjadi pertumbuhan ekspor dan impor yang negatif sehingga menjadi kewaspadaan pada 2020 yang berarti sektor produksi yang tidak mengimpor bahan baku atau modal akan memengaruhi rencana ekspansi di 2020.