İqbal Musyaffa
27 Agustus 2019•Update: 28 Agustus 2019
JAKARTA
Kementerian Keuangan menegaskan bahwa APBN 2020 dirancang untuk bisa responsif dan fleksibel dalam menghadapi tekanan ekonomi baik dari dalam maupun luar negeri.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah terus melakukan kebijakan fiskal yang ekspansif dengan melakukan pengeluaran untuk menstimulasi dan mendorong perekonomian.
Menurut Menteri Sri Mulyani, APBN 2020 harus mampu menjadi instrumen pengurang tekanan tersebut.
“Kita tentu berharap agar tekanan perekonomian dari luar bisa berkurang,” jelas dia di Jakarta, Selasa.
Dia menambahkan apabila tekanan berkurang, maka APBN 2020 tidak perlu melakukan pengeluaran yang cukup banyak.
“Dalam situasi hari ini saat banyak negara diprediksi mengalami pelemahan ekonomi, kita akan melihat bagaimana pengaruhnya dalam perekonomian Indonesia,” lanjut Menteri Sri Mulyani.
Dia menjelaskan apabila tekanan ekonomi dari luar seperti melemahnya ekspor terus terjadi, maka pemerintah mendorong kompensasi pertumbuhan dari sisi domestik melalui konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah seperti yang selama ini dilakukan.
“Dalam dua triwulan terakhir, konsumsi maupun government spending menjadi salah satu sumber pendorong ekonomi yang cukup besar dan kita masih perlu mendorong investasi,” imbuh dia.
Menteri Sri Mulyani mengatakan investasi berasal dari kepercayaan dunia usaha, sehingga upaya pemerintah bukan kepada ekspansi kebijakan fiskal, melainkan pada upaya membuat dunia usaha percaya untuk berinvestasi di Indonesia.
“Karena itulah kebijakan kementerian lembaga dan pemda untuk memperbaiki investasi menjadi sangat penting,” tegas dia.