Muhammad Nazarudin Latief
12 Desember 2017•Update: 12 Desember 2017
Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Lembaga keuangan berisiko menghadapi gugatan pengadilan jika ketahuan memodali perusahaan-perusahaan kelapa sawit yang terbukti merusak lingkungan.
Menurut Country Director Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Tiur Rumondang pada Selasa, berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 51 Tahun 2017, bank diwajibkan membuat laporan keberlanjutan dan memiliki rencana aksi keuangan berkelanjutan.
“Aturan tersebut menyatakan adanya penalti atas ketidakpatuhan. OJK juga memutuskan bahwa sektor keuangan perlu mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” ujar Tiur.
Bank, kata Tiur, berperan penting dalam laju sektor kelapa sawit dan telah mendapatkan keuntungan besar dari pertumbuhannya. Pinjaman dari bank yang diberikan untuk mengembangkan industri ini, menurut dia, sudah memberikan imbal hasil yang besar.
Sebagai informasi, industri ini menyumbang 12 persen dari total nilai ekspor Indonesia pada 2016.
Sektor kelapa sawit bahkan terus berkembang dan menjadi pendorong pembangunan ekonomi serta berhasil memperkerjakan sekitar 5,6 juta jiwa.
Namun, menurut Tiur, kelapa sawit juga mempunyai dampak biaya lingkungan dan sosial yang tinggi. Termasuk deforestasi hutan tropis dan wilayah lain yang mempunyai keanekaragaman hayati.
Setelah mendapatkan keuntungan besar, menurut Tiur, inilah saatnya bank berbuat sesuatu yang baik pada lingkungan.
Melalui keputusan pendanaan yang diambilnya, bank dapat mendorong perusahaan nasabahnya untuk memenuhi tanggung jawab lingkungan dan sosial mereka.
“Keputusan bisnis yang memperhatikan isu-isu lingkungan hidup bisa menciptakan stabilitas dan kemakmuran bagi bank karena membatasi eksposur mereka pada risiko,” ujar Tiur.
Peneliti RSPO Jan Willem van Gelder mengatakan, banyak keuntungan yang bisa diambil sektor keuangan jika mengikuti prinsip keberlanjutan lingkungan hidup.
Perusahaan yang dibiayai dengan “prinsip-prinsip hijau”, sebut dia, bisa mengatasi risiko pengurangan pendapatan dan risiko kenaikan biaya. Hal ini akan meningkatkan profitabilitas, arus kas bebas, dan nilai aset.
“Ini berarti risiko kredit macet berkurang,” ujar Jan.
Dalam pantauan mereka, bank yang memberikan dana terbesar untuk industri kelapa sawit adalah Maybank, CIMB, RHB, OSBC, HSBC dan Mitsubishi. Sementara bank lokal pemberi pinjaman terbesar untuk perusahaan kelapa sawit adalah Bank Mandiri.