İqbal Musyaffa
06 Agustus 2018•Update: 07 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa pemerintah memperhatikan pertumbuhan investasi yang melambat, meskipun pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini tumbuh tinggi 5,27 persen.
Menteri Sri mengakui ada penurunan investasi di bawah yang pemerintah harapkan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada triwulan ini yang tumbuh 5,87 persen sebagaimana data yang dikeluarkan BPS.
“Pertumbuhan PMTB itu sudah tiga kuartal berturut-turut di atas 7 persen sekarang tiba-tiba di bawah 6 persen. Ini harus kita sikapi secara hati-hati,” jelas Menteri Sri.
Dia mengatakan ada korelasi antara libur panjang pada periode Ramadan dan Idul Fitri kemarin dengan masih rendahnya pertumbuhan manufaktur.
Kemudian dari sisi ekspor impor, Menteri Sri mengatakan pertumbuhan ekspor masih lebih lemah dari impor. Secara year on year, ekspor tumbuh 7,7 persen sementara impor tumbuh 15,17 persen.
Meskipun terdapat beberapa kelemahan, namun Menteri Sri mengaku senang dengan data pertumbuhan ekonomi di triwulan II tahun ini.
BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tahun ini sebesar 5,27 persen year on year dan merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi triwulanan secara year on year di periode pemerintahan Joko Widodo. Pada triwulan I tahun ini pertumbuhan ekonomi hanya sebear 5,06 persen.
“Pertumbuhan sekarang lebih tinggi bahkan dari prediksi yang kami sampaikan di DPR lalu untuk Q2 yang sebesar 5,16-5,17 persen,” jelas Menteri Sri.
Dia mengatakan, strategi pemerintah dalam menjaga stabilisasi harga pada saat Ramadan dan Idul Fitri serta libur panjang yang lalu menurut dia telah berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pergeseran masa panen dan pemberian THR serta gaji ke 13 bagi PNS menurut dia juga telah memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi.
Akan tetapi, Menteri Sri menambahkan bahwa pemerintah masih memiliki tugas untuk memacu investasi agar pertumbuhan ekonomi di atas 5,2 persen tidak menimbulkan komplikasi dari sisi neraca pembayaran.
“Karena kalau ekspornya terlalu lemah dari impor, maka pertumbuhan ekonomi akan menimbulkan tekanan pada neraca pembayaran,” imbuh dia.