Muhammad Latief
10 Oktober 2017•Update: 11 Oktober 2017
Pemerintah Indonesia meluncurkan program “tol udara” untuk mengatasi persoalan konektivitas dan distribusi barang ke pinggiran dan wilayah di ketinggian Provinsi Papua dan Papua Barat, demikian diungkapkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Selasa.
“Itu di pinggiran dan perbatasan yang hanya bisa dijangkau oleh pesawat,” ujarnya.
Untuk proyek percontohan tahun ini, akan menghubungkan tiga kota, yaitu Timika, Kabupaten Mikika; Dekai Kabupaten Yahukimo, dan Wamena Kabupaten Jayawijaya.
Dari tiga kota tersebut, akan dikembangkan ke kota-kota kecil lain seperti Ilaga, Kabupaten Puncak Jaya dan kota-kota lain. Paling tidak 12 kota akan segera terhubung dengan program ini.
Implementasinya, pemerintah akan meningkatkan kapasitas bandara-bandara kelas pemula yang sudah ada di kota-kota tersebut dengan memperpanjang runaway (landasan) dan modernisasi air traffic control (ATC). Pemerintah juga akan mengganden maskapai swasta maupun BUMN untuk menyediakan pesawat-pesawat kargo.
Konektivitas ini kata Menteri Budi, bisa menurunkan harga berbagai komoditas, terutama sembilan bahan pokok hingga 20 persen dari harga semula. Bahkan untuk semen dan bahan bangunan bisa turun hingga 40 persen. Selain menurunkan harga, konektivitas ini juga akan mengatasi ketidakpastian stok dan harga.
Tol udara, menurut Menteri Budi terinspirasi dari keberhasilan “tol laut” yang bisa menurunkan harga barang di wilayah timur Indonesia hingga 40 persen. Program ini menurut Menteri Budi harus ditindaklanjuti setelah menemukan fakta bahwa disparitas tidak hanya terjadi antara wilayah barat dan timur Indonesia, namun kesenjangan yang tinggi terjadi di wilayah perbatasan dengan negara lain dan pegunungan Papua.
“Anggarannya Rp 400 miliar, tahun depan akan digarap yang Kalimantan,”