Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2018 sebesar 5,06 persen, seiring dengan turut tumbuhnya ekonomi negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Singapura.
Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan I tahun ini stagnan atau sama dengan triwulan IV 2017 yakni sebesar 6,8 persen.
Pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu dengan pertumbuhan 6,9 persen.
Kemudian, ekonomi Amerika Serikat menguat menjadi 2,9 persen pada triwulan pertama tahun ini dari hanya 2 persen pada triwulan I-2017 dan sebesar 2,6 persen pada triwulan IV-2017.
“Ekonomi Singapura juga menguat jadi 4,3 persen pada triwulan pertama tahun ini, lebih baik dari triwulan IV-2017 yang tumbuh 3,6 persen dan triwulan I-2017 yang tumbuh hanya 2,5 persen,” ungkap Suhariyanto.
Harga komoditas migas dan nonmigas di pasar internasional pada triwulan I 2018 secara umum mengalami peningkatan baik secara quarter to quarter dan year on year, menurut Suhariyanto, juga turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kondisi perekonomian global pada triwulan I tahun ini juga meningkat, walaupun pertumbuhannya lebih rendah dari triwulan sebelumnya,” ungkap dia.
Suhariyanto juga mengungkapkan beberapa peristiwa ekonomi pada triwulan I yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi, seperti inflasi pada triwulan I secara quarter to quarter sebesar 0,99 persen dan secara year on year sebesar 3,4 persen.
“Berdasarkan data tersebut dan bila dibandingkan dengan target inflasi 3,5 plus minus 1 persen, maka inflasi masih terkendali,” ujar dia.
Nilai ekspor sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, berdasarkan data BPS, mencapai USD44,26 miliar atau turun 2,57 persen dari triwulan sebelumnya.
“Namun secara year on year ekspor tumbuh 8,78 persen,” lanjut Suhariyanto.
Kemudian nilai impor pada triwulan pertama tahun ini mencapai USD43,98 miliar, turun 1,09 persen dari triwulan IV-2017. Tetapi bila dibandingkan secara year on year, nilai impor sepanjang tiga bulan pertama naik 20,12 persen.
Realisasi penanaman modal pada tiga bulan pertama tahun ini, menurut Suhariyanto, mencapai Rp185,3 triliun atau naik 3,2 persen dari triwulan IV tahun lalu dan naik 11,8 persen dari periode yang sama pada tahun lalu (year on year).
“Realisasi belanja pemerintah juga membaik pada triwulan pertama tahun ini,” tambah dia.
Hal tersebut terlihat dari telah digunakannya 18,87 persen atau Rp419,06 dari pagu anggaran APBN sebesar Rp2.220,7 triliun. Belanja pemerintah lebih baik dari tiga bulan pertama tahun lalu yang mencapai Rp400,04 triliun atau 18,75 persen dari pagu APBN 2017 sebesar Rp2.133,3 triliun.
news_share_descriptionsubscription_contact
