Hayati Nupus
30 Januari 2019•Update: 30 Januari 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Lembaga riset mengungkapkan tingginya angka fraud [kecurangan] pada sistem transportasi daring berbasis aplikasi di Indonesia.
Deputi Spire Research and Consulting Jeffrey Bahar mengatakan pesanan fraud di kalangan pengemudi Go-Jek terjadi sebesar 30 persen sementara Grab kurang dari lima persen.
“Fraud ini sudah menjadi rahasia umum, beberapa bulan lalu fenomena ini malah sempat ramai,” ujar Jeffrey, Rabu, di Jakarta.
Jeffrey mengatakan fraud dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan transportasi daring, sekaligus menjadi koreksi lemahnya sistem yang mereka miliki.
Spire mencatat fraud itu berupa mark up tagihan makanan, fake GPS, mod apps untuk mempermudah memperoleh pesanan dan menggunakan aplikasi tambahan untuk memperoleh pesanan fiktif.
Konsultan Spire Research and Consulting Andhika Irawan mengatakan mayoritas fraud berupa fake GPS, yaitu menggunakan aplikasi tambahan agar posisi yang tercantum di peta aplikasi berada di lokasi lain yang minim pengemudi daring.
“Ini memudahkan pengemudi untuk mendapat penumpang dan tidak harus menunggu di titik tertentu yang harus bersaing dengan pengemudi lain,” ujar Andhika.
Bagi perusahaan, lanjut Andhika, fraud jenis ini tidak menimbulkan kerugian signifikan, justru pengemudi lebih mudah memperoleh pesanan dan dapat mengejar target bonus.
Selain fake GPS, imbuh Andhika, bentuk fraud yang lebih sering lainnya adalah pesanan fiktif dan modifikasi aplikasi.
Ketimbang Go-Jek, ujar Andhika, Grab lebih tegas memberikan sanksi fraud kepada pengemudi.
Makanya, kata Andhika, riset menyimpulkan sekitar 70 persen pengemudi Go-Jek pernah melakukan kecurangan sementara Grab kurang dari 10 persen.
Spire Research and Consulting menggelar riset ini pada November-Desember 2018 terhadap 280 pengemudi transportasi daring berusia 20-50 tahun yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan.
Di Indonesia, ada dua transportasi daring berbasis aplikasi yang dominan, yaitu Go-Jek merupakan yang start up unicorn asal Indonesia dan Grab, penyedia layanan asal Malaysia.