Shenny Fierdha Chumaira
01 Maret 2018•Update: 02 Maret 2018
Shenny Fierdha
JAKARTA
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno enggan menemui massa dari Jaringan Komunikasi Serikat Pekerja Perbankan yang berorasi di depan Balai Kota sejak pagi, Kamis.
Tidak diketahui pasti apa yang membuat orang nomor satu dan dua di ibu kota tersebut tidak mau bertemu, padahal massa ingin menyampaikan langsung keinginan mereka yang menuntut kenaikan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) di bidang perbankan sebesar 30 persen menjadi Rp 4,7 juta, dari semula Rp 3,6 juta.
"Pihak Balai Kota tidak memberi tahu alasan kenapa Anies tidak mau keluar," keluh salah seorang anggota Tim Advokasi Qatar National Bank (QNB) Indonesia Slamet Johar di depan Balai Kota DKI Jakarta.
Hingga sore hari, massa tetap meneriakkan yelyel dan berorasi, sementara sepuluh orang perwakilan massa yang merupakan ketua serikat pekerja dari berbagai bank yang ikut dalam aksi diperbolehkan masuk ke kompleks Balai Kota dan menunggu di dalam ruang pertemuan untuk bisa menemui Anies.
Kesepuluh perwakilan baru diperbolehkan masuk sekitar jam 12.15 WIB, padahal massa sudah tiba di Balai Kota sejak sekitar 10.40 WIB.
Namun sampai massa akhirnya membubarkan diri pukul 15.33 WIB, kesepuluh perwakilan tetap tidak berhasil menemui Anies untuk menyampaikan tuntutannya secara langsung.
Bakal gelar aksi lanjutan
Meski hari ini gagal menyampaikan langsung aspirasinya kepada Anies-Sandi, massa bertekad akan datang kembali dan menggelar aksi orasi lagi.
"Kalau tidak bisa bertemu hari ini dengan Anies, kita akan datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar!" seru salah satu orator yang berdiri di atas mobil sambil memegang pengeras suara, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja QNB Indonesia Toto Sugiharto.
Meski, belum diketahui kapan tepatnya aksi lanjutan akan dilangsungkan. Mereka mengaku akan berdiskusi dengan para ketua serikat pekerja bank masing-masing untuk mencari waktu yang tepat.
Di tempat yang sama, Ketua Serikat Pekerja Maybank Syariah Indonesia Bachrul Firmansyah menyayangkan sikap pemerintah yang seolah tidak menganggap sektor perbankan sebagai sektor penting dan unggulan, mengingat perannya yang besar dalam ekonomi bangsa.
Dia menyayangkan gaji karyawan bank masih lebih rendah dibandingkan gaji karyawan supermarket ritel, padahal syarat minimal pendidikan maupun syarat-syarat lainnya untuk bekerja di bank dan kesulitan kerjanya lebih tinggi.
"Karena bank adalah sektor unggulan, makanya gajinya juga haruslah unggul," tukas Bachrul yang mengatakan aksi hari ini menuntut kenaikan UMSP di Jakarta saja.
"Karena Jakarta adalah barometer negara dan tiap daerah punya UMSP masing-masing," jelas Bachrul.
Tapi jika UMSP bidang perbankan di Jakarta naik, sebut dia, maka seharusnya di daerah pun ikut naik.
Saat ini UMSP bidang perbankan di Jakarta ialah Rp 3,6 juta yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang baru lulus dan baru bekerja di bank dengan posisi yang rendah.
"Dan sekarang kita minta naik 30 persen supaya bisa jadi Rp 4,7 juta. Kita mau memartabatkan pekerja bank," tutup Bachrul.
Aksi ini dimulai dengan melakukan long march pada sekitar pukul 10.15 WIB yakni massa berjalan kaki dari Tugu Tani menuju Balai Kota oleh sekitar 150-200 pekerja bank. Saat aksi berakhir pukul 15.33 WIB, massa yang tersisa sekitar 100 orang.
Ratusan massa tersebut berasal dari berbagai bank yang tergabung dalam Jaringan Komunikasi Serikat Pekerja Perbankan yang terdiri dari 19 bank antara lain QNB Indonesia, Maybank Syariah Indonesia, Permata, Danamon, UOB Indonesia, DBS Indonesia, dan lain-lain.