Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY, Philippines
Kementerian Luar Negeri Filipina pada Senin mengumumkan Filipina akan menjadi tuan rumah forum yang mendiskusikan kerjasama internasional dalam isu Laut Cina Selatan.
Tamu yang akan datang antara lain diplomat-diplomat senior, pemangku kebijakan dan peneliti kerjasama maritim dari 10 negara anggota ASEAN serta Tiongkok.
"Seminar ini ingin meningkatkan pencapaian kita dalam upaya membangun kepercayaan dan keyakinan antar berbagai elemen yang terkait isu Laut Cina Selatan," kata Menteri Luar Negeri Alan Peter Cayetano seperti yang dikutip dari media The Philippine Star.
Forum itu akan tetap berjalan walaupun kabar terakhir mengatakan adanya aktivitas pembangunan pulau oleh Beijing di perairan yang diperdebatkan itu.
Cayetano mengatakan seminar 2 hari di Manila yang membahas penerapkan efektif deklarasi etik 2002 (DOC) itu berakhir pada 29 Agustus.
"Seminar ini juga ingin meningkatkan upaya regional untuk memastikan kedamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan, untuk mencegah kecelakaan maritim dan melestarikan lingkungan hidup bawah laut serta mencanangkan perikanan berkelanjutan," tambahnya.
Cayetano juga mengatakan seminar ini menunjukkan komitmen Filipina menerapkan DOC sementara upaya memperbaiki Kode Etik terus berjalan.
Filipina pertama menyelenggarakan seminar Laut Cina Selatan pada 2015 yang berfokus pada diskusi pemecahan masalah dengan damai dan pengurangan aktivitas di perairan itu.
Pengumuman yang dirilis ASEAN awal bulan ini mengindikasikan adanya kekhawatiran mengenai aktivitas reklamasi yang dilakukan Tiongkok dan menyerukan pencabutan keberadaan militer di perairan tersebut.
Beijing mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan, termasuk terumbu karang dan gugusan pulau yang dinamakan Kepulauan Spratly. Negara-negara ASEAN termasuk Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam serta Taiwan masing-masing mengatakan memiliki sebagian dari perairan itu.