Erric Permana
18 September 2018•Update: 19 September 2018
Erric Permana
JAKARTA
Pemerintah pada Selasa memastikan pelaku penculikan terhadap dua warga negara Indonesia (WNI) di Perairan Semporna, Sabah, Malaysia pada 11 September lalu merupakan kelompok teror Abu Sayyaf.
Namun, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku tidak akan terburu-buru mengambil sikap meski telah mengetahui pelaku penculikan kedua nelayan itu.
"Kita jangan buru-buru," ujar Menteri Ryamizard, menyayangkan sejumlah nelayan yang tetap berlayar ke wilayah rawan penculikan kelompok Abu Sayyaf meski dia telah memperingatkan untuk menjauhi daerah itu.
"Saya sudah ngomong seribu kali, sudah dibilang jangan ke sana," tegas Menteri Ryamizard.
Sebagai langkah pencegahan supaya penculikan tak lagi terjadi, Menteri Ryamizard mengaku akan melakukan latihan bersama pasukan bersenjata Filipina dan Malaysia.
"Sekarang kita latihan dulu yang bener. Langsung mau perang, mati nanti," tukas dia.
Pada 11 September lalu, media Malaysia mengutip Kepolisian Sabah yang menyatakan dua nelayan asal Indonesia diculik saat baru saja tiba di Pulau Gaya, perairan Semporna.
Pihak otoritas juga menyebut pelaku penculikan itu membawa senjata M16 dan berbicara dengan logat Suluk, sehingga diperkirakan berasal dari Filipina.
Menurut informasi yang diterima Polri, dua WNI itu bernama Syamsul Sugeni, 40 tahun, pemilik kapal bernama Sri Dewi 1 dan Usman Yunus sebagai anak buahnya.