Shenny Fierdha Chumaira
20 November 2017•Update: 20 November 2017
Shenny Fierdha Chumaira
JAKARTA
Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian mengatakan pihaknya akan mensterilkan Desa Banti dan Desa Kimbely dari pendatang yang merupakan pendulang liar.
Sebelum penyanderaan terjadi, banyak pendatang pergi ke dua desa tersebut untuk mendulang sisa produksi perusahaan pertambangan PT Freeport Indonesia yang dialirkan ke Kali Kabur, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika.
Menurut Tito, para pendulang liar tersebut cenderung menimbulkan berbagai masalah di daerah itu, seperti HIV/AIDS akibat prostitusi maupun masalah sosial lainnya.
Dia berharap para pendulang liar tidak kembali ke Desa Banti dan Desa Kimbely, Papua, paska penyanderaan dan menyarankan mereka pulang ke daerah asalnya.
Sekembalinya mereka ke daerah asal, pemerintah setempat dihimbau untuk memberikan mereka lapangan pekerjaan baru di bidang peternakan atau pertanian supaya mereka tidak kembali menjadi pendulang liar.
Namun, Tito tidak membatasi apakah warga asli Papua yang berada di kedua desa itu harus keluar desa dan pindah ke desa lain, atau tetap menghuni desa dan tidak pindah.
"Itu terserah mereka. Kalau mereka merasa nyaman, kita akan berikan pengamanan di situ. Tapi kalau mereka merasa tidak nyaman, kita evakuasi," kata Tito pada wartawan Senin.
Sejak awal November, kelompok bersenjata menyandera 1.000 penduduk asli Desa Banti dan 300 warga non-Papua di Desa Kimbely. Tito memperkirakan kelompok tersebut beranggotakan 25-30 orang dan memiliki 5-10 pucuk senjata api.
Pada Jumat pekan lalu, aparat gabungan polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil mengevakuasi 344 warga pendatang.
Hari ini, aparat gabungan kembali mengevakuasi warga kedua desa sehingga total warga yang telah dievakuasi sampai saat ini sekitar 500-600 orang.