Hayati Nupus
07 Januari 2019•Update: 07 Januari 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Kepolisian Daerah Jawa Barat menyatakan proses evakuasi korban longsor di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, dihentikan seiring berakhirnya status tanggap darurat.
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan status tanggap darurat itu berlaku sejak longsor terjadi pada 31 Desember 2018 hingga 6 Januari 2019.
“Meski masih ada satu korban yang belum ditemukan, namun pihak keluarga sudah pasrah dan menerimanya,” ujar Agung, Senin, dalam siaran pers.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko kepada Anadolu Agency mengatakan bahwa satu orang yang belum ditemukan itu bernama Rukesih (31 tahun), putri dari Aryanah (55 tahun).
Aryanah, kata Trunoyudo, merupakan korban terakhir yang ditemukan pada Minggu pagi di rumahnya yang tertimbun di ketinggian tujuh meter.
Tim evakuasi gabungan, ujar Trunoyudo, memperkirakan jenazah Rukesih berada tak jauh dari jenazah ibunya, namun pencarian hingga Minggu sore tak kunjung memperoleh hasil.
Agung menambahkan meskipun kegiatan evakuasi ditutup, pihaknya tetap menyiagakan personel dari Satbrimob Polda Jabar, Ditsabhara Polda Jabar dan Polres Sukabumi untuk membantu membersihkan lokasi longsor dan posko penanggulangan bencana tersebut.
Selanjutnya, ujar Agung, aktivitas pemulihan dan relokasi pemukiman masyarakat diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi.
Hingga saat ini, menurut Agung, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jabar telah mengidentifikasi 32 orang korban yang tewas.
Longsor menimbun puluhan rumah di Sukabumi, Senin 31 Desember 2018.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dari 100 orang terdampak longsor, tim SAR gabungan telah menemukan 64 orang selamat, 32 orang meninggal dan satu orang tidak ditemukan.
Sukabumi merupakan wilayah yang rawan longsor, ungkap Sutopo.
“Kondisi topografi perbukitan dengan batuan penyusun yang porus, gembur dan lepas menyebabkan mudah longsor, tingkat risiko tinggi karena banyak penduduk yang tinggal di wilayah rawan longsor itu,” ujar Sutopo.
BNPB mencatat dalam 10 tahun terakhir sudah 132 kali longsor terjadi di Sukabumi dan memakan korban jiwa.