Maria Elisa Hospita
30 Agustus 2018•Update: 30 Agustus 2018
Nazli Yuzbasioglu
ANKARA
Turki tidak ingin ada "kemunduran politik" dalam negosiasinya dengan Uni Eropa (UE).
"Kami ingin menerima sesuatu sebagai imbalan atas upaya kami, termasuk rezim bebas visa, dan kami tak menginginkan kemunduran politik," kata Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu, Rabu.
Hal itu disampaikan Cavusoglu dalam konferensi pers usai pertemuannya dengan Menteri Kehakiman Abdulhamit Gul, Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu, dan Menteri Keuangan Berat Albayrak di Ankara.
"Dalam hubungan kami dengan UE, kami akan memfokuskan pada isu-isu yang sedang berlangsung saat ini, seperti kelanjutan negosiasi Serikat Pabean dan pembebasan rezim bebas visa, sehingga kami bisa mendapatkan hasil," tambah dia.
Turki mengupayakan kerja sama yang lebih erat dengan Dewan Eropa.
Cavusoglu mengatakan bahwa Turki mengharapkan dukungan yang lebih besar dari Uni Eropa dalam upaya kontraterorisme melawan kelompok-kelompok teror seperti PKK, Organisasi Teroris Fetullah (FETO), dan Daesh di Eropa.
Turki mengajukan permohonan keanggotaan UE pada 1987, dan perundingan aksesi dimulai pada 2005.
Perundingan itu terhenti pada 2007 karena oposisi dari Jerman dan Prancis, dan pemerintah Siprus Yunani menyatakan keberatan.
Dalam sebuah deklarasi bersama, keempat menteri itu menekankan langkah-langkah perbaikan dalam kontraterorisme.
Mereka juga menegaskan tekad mereka untuk melanjutkan reformasi di bidang peradilan dan hak fundamental, karena sistem presidensial Turki akan berperan penting dalam proses ini.
Mengenai hubungan Turki-UE, deklarasi itu mengatakan: "Kami [Turki] berharap UE akan memulai kembali perundingan aksesi,"
Turki juga ingin Uni Eropa menyelesaikan Dialog Liberalisasi Visa, memulai negosiasi Serikat Pabean, mengimplementasikan Program Penerimaan Kemanusiaan Sukarela, dan mempercepat bantuan keuangan bagi pengungsi Suriah di Turki.