Cansu Dikme
06 April 2018•Update: 07 April 2018
Cansu Dikme
ANKARA
Turki mendesak tekanan terhadap rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad lebih ditingkatkan agar pengiriman bantuan kemanusiaan ke Suriah dapat berjalan.
"Tekanan terhadap rezim [Assad] harus ditingkatkan untuk mempercepat pengiriman bantuan kemanusiaan di Suriah," ujar Juru Bicara Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin kepada wartawan di Ankara, Jumat dini hari.
Kalin menilai bahwa rezim Assad bertanggung jawab atas kegagalan pelaksanaan gencatan senjata serta halangan dalam pengiriman bantuan, dia menyebut rezim sebagai "hambatan terbesar" dalam hal tersebut.
Mengenai upaya bantuan Turki di Suriah, Kalin mengatakan, “Hingga saat ini, dalam lingkup bantuan kemanusiaan Turki, tidak hanya di daerah-daerah yang dikendalikan Turki namun di seluruh Suriah. Jumlah total bantuan yang disalurkan oleh organisasi non-pemerintah Turki dan internasional, serta yang dikirimkan melalui Bulan Sabit Merah Turki adalah sebesar lebih dari 30ribu truk dan USD 630 juta, ”kata Kalin.
Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2401, yang menyerukan gencatan senjata di Suriah -terutama daerah Ghouta Timur yang dikepung- untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Meskipun telah ada resolusi tersebut, rezim dan sekutu-sekutunya pada awal Maret meluncurkan serangan darat - yang didukung oleh kekuatan udara Rusia – dan merebut daerah yang dikuasai oleh oposisi di Ghouta Timur.
"Tujuan utama kami adalah memastikan insiden yang terjadi di Ghouta Timur tidak terjadi di wilayah Homs utara dan Idlib. Dalam kerangka ini, yang kami harapkan daria Rusia dan Iran adalah penerapan tekanan terhadap rezim [Assad] dan memberitahu rezim untuk menghentikan pelanggaran gencatan senjata, ”kata Kalin.
Ghouta Timur yang merupakan rumah bagi 400ribu jiwa, telah berada di bawah kepungan rezim yang menutup akses bantuan kemanusiaan selama lima tahun terakhir.
-- Kampanye militer Turki di Afrin
Soal operasi militer Turki yang sedang berlangsung di wilayah Afrin di Suriah, Kalin mengatakan, "Keberadaan kami di Afrin sekarang akan berlanjut sampai keamanan dan ketertiban umum dipastikan sepenuhnya di Afrin."
Pada 18 Maret, pasukan yang didukung Turki membebaskan pusat kota Afrin dari para teroris sebagai bagian dari Operasi Ranting Zaitun, yang diluncurkan pada 20 Januari untuk membersihkan kelompok-kelompok teroris dari Afrin, di tengah meningkatnya ancaman dari kawasan itu.
Pasukan hingga kini masih melakukan penyisiran ranjau, peledak rakitan, dan tempat persembunyian teroris untuk keamanan.
Soal klaim Rusia bahwa keberadaan teroris YPG/PYD di kota Tal Rifaat di Aleppo utara telah berkurang, Kalin mengatakan Turki perlu memastikan kebenaran klaim tersebut.
"Mengenai masalah Tal Rifaat, Rusia mengatakan 'hampir tidak ada unsur-unsur teror YPG/PYD'. Kami akan mengkonfirmasi itu melalui sumber kami sendiri," kata juru bicara kepresidenan.