Dandy Koswaraputra
JAKARTA
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia berbagi pemahaman dengan para peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri mengenai penting kebebasan pers, seraya mengharapkan adanya saling pengertian antar kedua lembaga tersebut.
Di hadapan peserta didik Sespimti 2019, yang terdiri dari 10 orang berpangkat Komisaris Besar (Kombes) Polisi dan 2 orang berpangkat Kolonel TNI AU, Ketua AJI Indonesia Abdul Manan memaparkan sejarah kelahiran organisasi yang dipimpinnya dengan sejumlah program kerjanya.
“Sejarah kelahiran AJI tidak lepas dari kebutuhan adanya kebebasan pers yang saat itu dikontrol oleh pemerintah Orde Baru,” kata Manan dalam pertemuan dengan peserta Sespimti Polri di kantor AJI Indonesia di Jakarta, Jumat.
Dalam kesempatan tanya jawab, salah satu peserta Sespimti Polri Kombes Anom Wibowo meminta masukkan AJI mengenai kinerja Polri saat ini, seraya mengacu kepada salah satu laporan media cetak ternama yang menyatakan bahwa tingkat kepercayaan kepada polisi meningkat.
Manan sendiri tidak menampik adanya perbaikan kinerja Polri saat ini, namun beberapa kasus kekerasan terhadap jurnalis yang masih kerap terjadi belakangan ini menjadi bukti bahwa belum adanya saling pengertian yang kuat antara polisi dan jurnalis akan tugasnya masing-masing.
“Makanya kenapa AJI pernah menobatkan polisi sebagai musuh kebebasan pers,” kata dia.
Ke depan, kata Manan, saling pengertian antara kedua belah pihak harus diperkuat agar bisa memperkecil masalah yang muncul di kemudian hari – terutama para petugas lapangan baik polisi maupun jurnalis.
AJI sendiri secara institusi meminta Polri untuk menggunakan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, ketimbang KUHP, saat terjadi masalah hukum yang dialami para jurnalis saat menjalankan tugasnya.
Dalam diskusi tersebut, peserta lainnya Kombes Pradah Pinunjul meminta pihak jurnalis juga memahami tugas polisi bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh aparat polisi semata hanya menjalankan prosedur hukum yang berlaku.
“Lalu pertanyaan saya adalah apa yang menjadi strategi AJI untuk ikut membangun bangsa,” kata Pradah.
Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Revolusi Riza Zulverdi mengatakan sejauh ini peran AJI dalam turut membangun bangsa adalah dengan meningkatkan kapasitas jurnalis melalui serangkaikan pelatihan dan pendidikan.
“Kami melakukan upaya yang kami mampu untuk ikut membangun bangsa,” kata Revo.
Brigadir Jenderal Polisi Petrus Wayne mengatakan kegiatan audiensi dengan media bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan soliditas eksternal dengan para pemangku kepentingan.
Selain itu, sambung dia, kunjungan ke organisasi media ini untuk menyerap aspirasi terkait kinerja Polri selama ini sehingga ke depan lembaga akan semakin baik lagi dan semakin dipercaya masyarakat selaku alat negara pemelihara kamtibmas, penegak hukum, serta pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.
“Begitu pula tentunya dengan TNI, ke depan tentara juga harus lebih dekat dengan masyarakat,” kata Brigjen Pol Petrus.
news_share_descriptionsubscription_contact
