Nicky Aulia Widadio
21 Februari 2019•Update: 21 Februari 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Indonesia mengalokasikan anggaran Rp7 triliun untuk pengadaan dan modernisasi sistem deteksi bencana hingga 2021.
Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bernardus Wisnu Widjaja mengatakan anggaran tersebut akan digunakan untuk perbaikan alat yang rusak dan pengadaan infrastruktur baru untuk sistem mitigasi bencana.
Menurut dia, Indonesia saat ini sangat membutuhkan satelit, setidaknya satelit komunikasi untuk sistem peringatan dini bencana.
Pasalnya selama ini banyak sensor bencana yang sangat bergantung pada menara pemancar seluler (BTS).
“Kalau BTS-nya ada masalah koneksi itu informasinya tidak bisa sampai,” tutur dia.
Selain itu, Wisnu mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan TNI untuk mengamankan infrastruktur pendeteksi bencana.
Pada 2018 lalu, pemerintah menyatakan alat deteksi tsunami berupa buoy di Sulawesi Tengah telah hilang dicuri.
Akibatnya sistem peringatan dini tsunami tidak bekerja maksimal.
“Panglima (TNI) juga sudah siap untuk memerintahkan untuk pengamanan seperti buoy yang hilang, sekarang dibangun lagi,” jelas Wisnu.
BNPB, kata dia, juga mengusulkan agar anggaran untuk modernisasi infrastruktur mitigasi bencana tidak berhenti hingga 2021, sebab teknologi mitigasi bencana dan tantangannya akan terus berkembang.
“Kalau bisa menjadi anggaran yang rutin setiap tahun,” kata Wisnu.