JAKARTA
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa dua orang jamaah umrah Indonesia yang meninggal dalam penerbangan kembali ke Tanah Air bukan karena virus N-CoV (Novel Coronavirus) yang dapat menyebabkan penyakit pneumonia.
Jamaah tersebut meninggal di dalam pesawat Lion Air JT-085 rute Jadah-Surabaya sehingga pesawat tersebut harus melakukan pendaratan darurat di Kolombo, Sri Lanka pada 13 Januari lalu.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan Kementerian Kesehatan tidak melakukan autopsi sehingga tidak bisa menyebutkan penyebab meninggalnya secara keseluruhan.
“Kita hanya melakukan pemeriksaan virus yang terkait dengan kondisi darurat kemanusiaan yakni Novel Coronavirus,” jelas Anung di Jakarta, Senin.
Dia mengatakan kedua korban meninggal tersebut sudah berusia lanjut yakni 64 dan 70 tahun serta memiliki riwayat hipertensi dan pusing-pusing. Selain itu, jadwal penerbangan pesawat tersebut juga maju 4 jam sehingga kemungkinan korban meninggal karena terburu-buru.
Anung menguraikan dalam pesawat tersebut terdapat 257 jamaah umrah yang harus mendarat darurat di Kolombo karena ada dua orang meninggal dunia dan satu orang sesak nafas di dalam pesawat. Kebetulan, ketiga orang tersebut duduk berdekatan.
“Karena prosedural, 2 jenazah dan 1 orang yang sesak diturunkan di Kolombo dengan 1 orang pendamping,” jabar Anung.
Menurut dia, Arab Saudi memang memiliki tingkat kewaspadaan tinggi terkait kejadian akibat coronavirus sehingga korban meninggal dan sakit tersebut ditangani oleh otoritas kesehatan Kolombo terkait penyakit darurat kemasyarakatan, sementara jamaah lainnya melanjutkan penerbangan kembali ke Surabaya.
Selanjutnya, dua jenazah tersebut dikirim ke Indonesia pada tanggal 16 Januari dan merupakan kasus pertama pemulangan dalam bentuk jenazah untuk pasien yang terindikasi terkena virus.
Sementara satu jenazah lainnya masih berada di Kolombo untuk penanganan medis lanjutan.
“Ada perlakuan berbeda meskipun peti mati sudah disegel, petugas tetap menggunakan alat perlindungan optimal untuk pemeriksaan dan pengambilan sampel pada jenazah di rumah sakit Sulianti Saroso (Sunter),” tambah dia.
Menurut Anung, pengambilan sampel tersebut penting untuk jamaah yang masih dirawat di Kolombo ataupun bagi jamaah umrah lainnya yang sudah kembali ke Indonesia.
Setelah pemeriksaan sampel, dua jenazah tersebut kemudian dibawa ke Surabaya keesokan harinya melalui jalur udara sesuai prosedur yang berlaku.
“Berdasarkan hasil laboratorium yang keluar pada Sabtu (18 Januari), tidak ditemukan NCoV dan tidak ada penyakit ataupun virus lain,” kata Anung.
Dengan begitu, Anung mengatakan bahwa kasus tersebut bukan merupakan kasus darurat kemasyarakatan akibat virus tersebut.
“Meski begitu, sampai saat ini seluruh jamaah dalam penerbangan JT-085 kita pantau kesehatannya sampai 14 hari ke depan yang kita harapkan tidak ada perkembangan gejala atau penyakit yang tidak kita kehendaki,” lanjut dia.
Sementara itu, Anung menjelaskan KBRI Kolombo masih menunggu hasil laboratorium terhadap dua jenazah untuk menentukan penanganan pasien jamaah umrah Indonesia yang masih berada di sana yang saat ini sudah keluar dari ICU.
“Kita sedang mempersiapkan surat untuk ditandatangani Menteri Kesehatan yang menyatakan jenazah yang meninggal bukan bagian dari public health emergency international concern,” tambah dia.
Anung mengatakan dengan adanya surat keterangan tersebut, nantinya pasien yang dirawat di Kolombo apabila pulang ke Indonesia tidak perlu mendapatkan perlakuan khusus saat penerbangan dan juga saat tiba di bandara.
news_share_descriptionsubscription_contact


