Nıcky Aulıa Wıdadıo
27 Januari 2020•Update: 28 Januari 2020
JAKARTA
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wuhan meminta pemerintah segera mengevakuasi para pelajar yang terisolasi di kota tersebut sejak otoritas setempat menutup akses akibat mewabahnya virus korona.
Sebanyak 97 mahasiswa dan dua orang pekerja asal Indonesia yang ikut terisolasi di Kota Wuhan dari total sekitar 200 WNI yang kuliah dan bekerja di sana.
Ketua PPI Wuhan, Nur Musyafak mengatakan tidak ada WNI yang terjangkit virus korona sejauh ini, namun mereka berharap dapat segera dievakuasi dari Wuhan.
“Kondisi teman-teman tidak sebaik pada awal kota ini ditutup atau di-lockdown. Awal-awal masih tenang dan tidak panik tetapi karena pemberitaan di Indonesia dan orang tua mereka khawatir, sekarang psikologi mereka agak tertekan dan minta dipulangkan,” kata Musyafak kepada Anadolu Agency, Senin.
Dia menuturkan, saat ini tengah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI dan Kementerian Luar Negeri terkait nasib puluhan mahasiswa tersebut.
“Dari KBRI ada rencana mengirim logistik ke Wuhan tapi karena transportasi terbatas, tidak bisa masuk ke Wuhan jadi prosedurnya masih dicari oleh KBRI,” ujar dia.
Mengurung diri di asrama
Mahasiswa program doktoral Central China Normal University, Nugraha, 46, mengatakan sudah hampir satu minggu mendekam di dalam asrama untuk menghindari potensi terpapar virus korona.
Di asrama tempat Nugraha menetap, ada 26 mahasiswa Indonesia yang ikut terisolasi dari total sekitar 70 WNI yang berkuliah di universitas tersebut.
Sebagian besar mahasiswa Indonesia telah pergi berlibur atau pulang kampung sebelum Kota Wuhan ditutup.
Dua hari sebelum kota Wuhan ditutup, Nugraha masih menghadiri perayaan imlek yang diselenggarakan universitas namun saat itu dia mengaku belum terlalu khawatir dengan wabah virus korona.
Setelah itu Kota Wuhan yang biasanya memang sepi karena tradisi mudik saat imlek, menjadi lebih sepi akibat wabah virus korona.
Transportasi umum tidak beroperasi dan warga setempat hanya bepergian untuk keperluan mendesak.
Sejumlah universitas, termasuk tempat Nugraha berkuliah, juga mengundur waktu dimulainya semester baru dari yang semestinya tanggal 3 Februari 2020 hingga waktu yang belum ditentukan.
“Dari kampus sudah mewanti-wanti kalau tidak perlu ya tidak usah keluar, juga dianjurkan untuk tidak ke tempat umum seperti pasar dan stasiun, kecuali untuk keperluan logistik,” kata Nugraha kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon.
Nugraha sendiri hanya pergi keluar untuk membeli bahan makanan dengan berjalan kaki ke supermarket terdekat. Sekali berbelanja, dia langsung menyetok kebutuhan untuk lima hari.
Namun setiap kali keluar asrama, mereka diwajibkan menggunakan masker dan mencuci tangan menggunakan disinfektan begitu kembali.
“Setiap hari sebelum jam 12 siang kami harus melaporkan suhu tubuh, setiap kamar diberi satu termometer,” ujar dia.
Harga beberapa bahan makanan menjadi lebih mahal dari biasanya, meskipun kenaikannya di beberapa tempat perbelanjaan di sekitar kampus tidak signifikan.
“Sayur misalnya, saya beli kubis itu satu plastik biasanya 3 yuan, sekarang 3,5 yuan. Cuma pas setelah lockdown persis, katanya memang ada yang naik tinggi tapi kalau di sekitar kampus tidak masih lebih murah,” tutur dia.
Sejauh ini Nugraha mengatakan tidak kekurangan bahan makanan meski terisolasi di dalam Kota Wuhan. Akses komunikasi juga lancar sehingga dia bisa terus mengabari situasi terkini kepada keluarganya di Indonesia.
“Kadang kami harus berhati-hati mengabari keluarga bahwa yang terjadi tidak semengerikan itu, kami memang diharapkan terus menjalin komunikasi dengan keluarga agar mereka tidak khawatir,” kata Nugraha.